wahai Melati Hijau Hitam
telah jauh jejak waktu mu melangkah
sudahkah jauh jejak kakimu berjuang?
sudahkah panji tegak terpancang?
Wahai Melati Hijau Hitam
Adakah sejarah mengukir indah namamu
telahkah pupus bagai debu
ataukah terhapus pada badai yang berkunjung ?
Waha Melati Hijau Hitam
Masihkah kau tergugu dalam ragu?
Malu-malu tapi ingin beradu
Menempa muslimah jadi padu
Wahai Melati Hijau Hitam
usah menoleh ke masa lalu
bungkus bekal untuk melaju
jangan pernah berhenti untuk maju
Thursday, September 17, 2009
Tuesday, June 16, 2009
Tentang Jegal-menjegal kader
Tadi, seorang adinda curhat via sms ke padaku. Pasalnya, duduknya dia di kepengurusan di tentang oleh orang-orang yang memiliki posisi penting dan berpengaruh terhadap jalannya kepengurusan. Sedih terbersit, juga tak habis mengerti dirinya. Karena dalam sejarah geliat organisasinya selalu di tentang banyak orang. Kuingat-ingat memang parah betul adinda yang satu ini, dari komisariat sampai setingkat badko, selalu punya musuh politik yang jadi batu sandungannya hingga tak mampu menunjukkan kecintaannya pada HMI. Ada saja konfliknya. Dan meski aku pengamat dan sedikit banyak terlibat dalam prosesnya ber-HMI, aku pun memiliki kebingungan yang sama, tak mengerti melihat budaya jegal-menjegal perkaderan ini.
Ah..ya...jadi ingat. Aku juga pernah mengalami hal yang sama, ditentang oleh seorang teman karena keinginanku untuk duduk di Kohati Cabang Medan. Fatalnya dia adalah Ketua Umum komisariat yang punya wewenang untuk tidak merekomendasikan ku menjadi pengurus di tingkat cabang. Dalam rapat presidium, tegas dia melarangku untuk melanjutkan jenjang kepengurusanku. Aku ingat rasanya. Sangat sakit. Terbuang dan merasa tak berguna jerih payah yang kuperbuat selama ini.
Agaknya ketika kekuasaan ada di tangan, selalu saja ada kecenderungan untuk menyalahgunakan kekuasaan tersebut. Seolah mendapat jabatan (ketua umum misalnya) juga punya wewenang untuk mengatur proses perkaderan seseorang. Alasannya seringkali bertopeng demi nama baik organisasi, dan yang lebih aneh adalah demi kebaikan si kader, sperti kasusku ini, namun sebenarnya alasan yang dibuat adalah untuk menutupi alasan subjektif sang penguasa. Dia suka atau tidak dengan si kader malang.
Temanku sang ketua umum komisariat itu, akhirnya lunak bagai kerupuk disiram air, ketika seorang senior yang kami segani menasehatinya dengan sepotong kalimat. "Jangan pernah kau halangi kader yang berproses di perkaderan, itu bukan hak mu, tapi kewajibanmu untuk mendukungnya". Dan temanku itu akhirnya dengan tulus meminta maaf padaku, didepan sang Senior itu. Andai saja tak ada momen itu, tentulah tak ada sesosok Pera yang menyelesaikan seluruh jenjang perkaderan HMI-nya, dan menuliskan pengalamannya dalam blog ini. Pengalaman ini terekam dalam alam sadarku, dan sedaya upaya tak melakukan kesalahan yang sama. Semoga tak ada yang terzolimi oleh kekuasaan yang pernah kukelola. Kalaupun ada, mohon maaf dengan sangat.
Tapi memang gesekan di organisasi seringkali memakan korban. Kader yang tak kuat dengan kerasnya dinamika organisasi, terkadang terlempar keluar tanpa sempat mengukir sejarah di HMI. Tapi, biasanya..biasanya yah...orang-orang yang ditentang dan di jegal-jegal perkaderannya adalah karena dia punya kekuatan. Entah kekuatan itu negatif atau positif bagi HMI, tapi potensi itu terbaca dari aktifitasnya dan pengaruhnya. Dan kalau memang kader yang terzholimi ini memang seorang yang kuat, jika ia terlempar atau mampu bertahan di HMI biasanya dia akan disegani oleh segenerasinya.
Dan yang menjijikkan adalah, orang-orang yang dulu menjegal-jegal kader, datang mendekat meminta pertolongan kepada kader yang pernah di zholiminya.
Kehidupan bagai roda yang berputar, suatu saat kita sukses, suatu saat pula kita jatuh. Berorganisasi carilah teman, bukanlah musuh. Karena memiliki satu musuh saja, sama saja memutuskan sungai keberuntunganmu.
Ah..ya...jadi ingat. Aku juga pernah mengalami hal yang sama, ditentang oleh seorang teman karena keinginanku untuk duduk di Kohati Cabang Medan. Fatalnya dia adalah Ketua Umum komisariat yang punya wewenang untuk tidak merekomendasikan ku menjadi pengurus di tingkat cabang. Dalam rapat presidium, tegas dia melarangku untuk melanjutkan jenjang kepengurusanku. Aku ingat rasanya. Sangat sakit. Terbuang dan merasa tak berguna jerih payah yang kuperbuat selama ini.
Agaknya ketika kekuasaan ada di tangan, selalu saja ada kecenderungan untuk menyalahgunakan kekuasaan tersebut. Seolah mendapat jabatan (ketua umum misalnya) juga punya wewenang untuk mengatur proses perkaderan seseorang. Alasannya seringkali bertopeng demi nama baik organisasi, dan yang lebih aneh adalah demi kebaikan si kader, sperti kasusku ini, namun sebenarnya alasan yang dibuat adalah untuk menutupi alasan subjektif sang penguasa. Dia suka atau tidak dengan si kader malang.
Temanku sang ketua umum komisariat itu, akhirnya lunak bagai kerupuk disiram air, ketika seorang senior yang kami segani menasehatinya dengan sepotong kalimat. "Jangan pernah kau halangi kader yang berproses di perkaderan, itu bukan hak mu, tapi kewajibanmu untuk mendukungnya". Dan temanku itu akhirnya dengan tulus meminta maaf padaku, didepan sang Senior itu. Andai saja tak ada momen itu, tentulah tak ada sesosok Pera yang menyelesaikan seluruh jenjang perkaderan HMI-nya, dan menuliskan pengalamannya dalam blog ini. Pengalaman ini terekam dalam alam sadarku, dan sedaya upaya tak melakukan kesalahan yang sama. Semoga tak ada yang terzolimi oleh kekuasaan yang pernah kukelola. Kalaupun ada, mohon maaf dengan sangat.
Tapi memang gesekan di organisasi seringkali memakan korban. Kader yang tak kuat dengan kerasnya dinamika organisasi, terkadang terlempar keluar tanpa sempat mengukir sejarah di HMI. Tapi, biasanya..biasanya yah...orang-orang yang ditentang dan di jegal-jegal perkaderannya adalah karena dia punya kekuatan. Entah kekuatan itu negatif atau positif bagi HMI, tapi potensi itu terbaca dari aktifitasnya dan pengaruhnya. Dan kalau memang kader yang terzholimi ini memang seorang yang kuat, jika ia terlempar atau mampu bertahan di HMI biasanya dia akan disegani oleh segenerasinya.
Dan yang menjijikkan adalah, orang-orang yang dulu menjegal-jegal kader, datang mendekat meminta pertolongan kepada kader yang pernah di zholiminya.
Kehidupan bagai roda yang berputar, suatu saat kita sukses, suatu saat pula kita jatuh. Berorganisasi carilah teman, bukanlah musuh. Karena memiliki satu musuh saja, sama saja memutuskan sungai keberuntunganmu.
Sunday, June 14, 2009
Jabatan Pengurus yang paling....

HMI bagiku adalah penyedia fasilitas belajar tanpa batas. Tergantung diri sendiri mau belajar apa disini. Ingin belajar Ekonomi, panggil pakar ekonomi, ingin tau tetang HAM, panggil aktifis HAM. Jejaring HMI punya semua link itu. Tentu saja kemampuan itu ada jika duduk sebagai pengurus, dan bukan hanya sekedar anggota.
Dari semua proses kepengurusan yang kulalui, dari tingkat departemen hingga ketua umum, Posisi yang paling banyak proses belajar ada tiga.
1. Menjadi Sekretaris.
2. Menjadi Ketua Bidang
3. Menjadi Ketua Umum
1. Menjadi sekretaris, baik sekretaris umum maupun wakil sekretaris umum akan memaksa diri secara tak langsung untuk mengetahui cara mengoperasikan mesin organisasi. Surat-menyurat, menjalankan rapat dan sidang-sidang, memastikan jadwal-jadwal rencana kegiatan terlaksana tepat waktu. Selain itu komunikasi amat penting di posisi ini. Baik komunikasi lisan maupun tulisan. Menyampaikan pemikiran dengan jelas, runut/tersistematis. Semuanya melatih keberanian menyampaikan pemikiran.
2. Menjadi Ketua Bidang. Posisi ini paling nikmat untuk berkreatifitas. Membuat program-program kerja, dan melaksanakannya, melakukan penyesuaian perencanaan dengan pelaksanaan. Membangun jaringan baik internal HMI maupun eksternal HMI. Jika ingin berbuat banyak bagi HMI dan masyarakat, posisi ini amat memungkinkan. Jangan takut melakukan hal-hal yang tidak biasa, sepanjang yakin terhadap proses dan tujuan masih dalam jalur konstitusi. Lakukan.
3. Menjadi Ketua Umum. Nikmatnya menjadi ketua bidang eksternal, membuat ku tergiur untuk menjadi Ketua Umum. Dalam pemikiranku, tentulah lebih banyak yang bisa kulakukan di posisi ini. Ternyata proses ketua umum adalah tak sekedar membuat program kerja. Dipundaknya adalah beban organisasi. Simbol organisasi melekat di tubuh dan tingkahlakunyanya, bahkan saat sang Ketua Umum sudah tak lagi menjabat. Ketua Umum seringkali menjadi alat ukur keintelektualan, dan etika dan norma yang dianut organisasi. Maka demi menjaga hal tersebut, saat jadi ketua umum, penampilan harus kujaga baik-baik. Yah tentu saja penampilan bukanlah segalanya. Tapi penampilan adalah pintu masuk sebuah hubungan baik ke lembaga maupun masyarakat. Jika berpakaian tak rapi, kesan pertama, orang pun malas untuk berkenalan. Disinilah aku membiasakan diri memakai Rok, sepatu hak tinggi, sekali-kali memakai Jas. Semua untuk membangun wibawa yang tak hanya untuk diriku tapi juga marwah organisasi. Dan dari sini, diikuti pula oleh tingkah laku dan tutur bicara yang sesuai. Sopan dan tegas. Mau tidak mau, seorang ketua harus rajin membaca, membaca buku maupun membaca alam. Karena tutur bahasanya adalah mewakili organisasi. Berat ya?. Kadang lelah juga. Kalau lelah mencoba selalu sempurna alias Ja'im, aku biasanya beralih kegiatan.
Menjadi Ketua Umum juga tak selalu bebas melaksanakan program-program kerja. Karena terlaksananya program kerja adalah menyangkut kerja sama tim pengurus. Imam, Ketua Umumku pernah menyatakan kekecewaannya padaku, dia bilang begini " Pera, sebelum mejadi ketua umum, kulihat banyak ide-ide cemerlang yang akan kau buat. Tapi setelah menjadi ketua umum kenapa seakan sulit mewujudkannya". Aku sedih sebenarnya, bukan sedih karena evaluasi sang Ketum, tapi sedih karena sesungguhnya aku sangat ingin mewujudkan cita-cita ku itu. Menjadikan Kohati organisasi perempuan yang menjadi inisiator pergerakan perempuan. Berada di garis depan, bukannya manut jadi pengikut sesuai issu sosial yang sedang berkembang. Mimpi tak sesuai dengan kemampuan.
Dalam proses pembelajaranku sebagai ketua umum, aku sampai pada sebuah kesadaran bahwa yang terpenting bukanlah terlaksananya program kerja, tapi bagaimana memadu kekuatan tim pengurusku agar dapat mencapai tujuan bersama. Begitu getolnya aku sebelumnya melakukan kerja-kerja di bidang eksternal, tapi dalam posisiku sebagai ketua umum, aku sampai pada kesadaran bahwa perkaderanlah alat yang melahirkan orang-orang (bukan satu orang) yang melakukan perubahan di masyarakat. Maka mulailah Internal menjadi perhatianku. Menyeimbangkan Eksternal dan Internal menjadi bahan eksperimenku.
Beruntung sekali aku sempat masuk dalam proses Senior Course. Training non-formal ini membuatku terhubung hingga saat ini dengan Kohati/HMI. Dan sangat mempermudahku dalam memuluskan jalannya perkaderan di Kohati yang seringkali terdiskriminasi karena alasan prioritas di HMI setingkatnya. Pasca gelut peluh sebagai Ketua Umum, menjadi Instruktur adalah proses pembelajaran tiada akhir bagiku.
Jika menjadi pengurus harus diakhiri sebagai tanda jalannya regenarsi organisasi. Maka mejadi Instruktur adalah proses sepanjang hayat. Proses untuk selalu belajar dan mengajar.
Takkan menjadi Instruktur yang baik jika seorang Instruktur berhenti belajar. Dan bukanlah Instruktur pulam jika dia tidak mengajarkan Ilmunya.
Menjadi Instruktur juga berarti menjadi Uswatun Hasanah bagi kader yang dididiknya. Sehingga jabatan sepanjang hayat ini menjadi pagar diri agar selalu memberi contoh yang baik.
Tentu saja sebagai manusia terkadang lalai dan melakukan kesalahan. Tapi tugas kita haruslah selalu berusaha untuk yang terbaik bukan?.
Dalam setiap perkaderan, selalu kuanjurkan pada adik-adikku untuk melalui bidang-bidang kerja itu. Bukan berarti aku meposisikan rendah jabatan yang lain di HMI, tapi hanya karena aku telah melaluinya dan amat bersyukur telah memanfaatkannya semampuku.
Apapun Posisi di kepengurusan, hanya yang mau memaksakan dirinya sendiri untuk belajar dan belajar yang akan merasakan nikmat buah posisi tersebut. Bahkan tak hanya dinikmati di masa-masa menjabat pengurus. Disadari atau tidak, proses menempa diri untuk selalu memecahkan masalah, berani, belajar bertanggung jawab, bekerjasama dengan sesama pengurus, berkomunikasi dengan orang banyak adalah proses penting membentuk diri sendiri.
Inilah sekolah kehidupan itu. Yaitu sekolah yang menghidupkan diri sendiri dan orang banyak. Maka.. jangan sia-siakan.
Jangan jadi kader yang hanya sekedar ada, apalagi yang mengada-ada. Jadilah kader yang lebih dari Ada.
Wednesday, June 10, 2009
Indikator Keberpihakan pada Perempuan
* Oleh Yusuf A Kusmanto
DALAM riset anggaran daerah yang mengambil fokus di Kabupaten Bantul
dan Kabupaten Gunungkidul (DIY), Dati Fatimah —peneliti gender dari
IDEA Yogyakarta— menyebutkan anggaran daerah selama periode 2000-2004
untuk kegiatan posyandu di kedua daerah itu hanya sekitar 0,2 persen
dari total anggaran APBD.
Anggaran untuk posyandu (pos pelayanan terpadu) begitu minimal.
Padahal kegiatan posyandu merupakan tolok ukur keberpihakan anggaran
publik atas kepentingan kaum perempuan, dalam hal ini ibu hamil, ibu
menyusui, serta anak di bawah usia tiga tahun (batita) dan anak di
bawah lima tahun (balita).
Ibarat tubuh manusia, posyandu merupakan ’’jantung’’ dari program
pelayanan kesehatan yang menjadi teropong sejauhmana standar
kesuksesan pelayanan peningkatan gizi dan kualitas hidup masyarakat.
Selama ini yang menjadi tolok ukur dalam pelayanan kesehatan terhadap
masyarakat yang dilakukan institusi negeri maupun swasta selalu
bersifat luxury oriented.
Apa yang disebut pelayanan kesehatan berkualitas ditentukan oleh
kondisi infrastruktur medis serta kapabilitas pelayanan kesehatan yang
memiliki kaitan dengan kecakapan pembiayaan (to fund).
Hal tersebut tidak terlepas dari kondisi komersialisasi sektor
kesehatan akibat laju globalisasi yang berfokus kepada akumulasi modal
di sektor publik, yang seharusnya diproteksi oleh negara.
Kesehatan masyarakat yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara,
lambat laun berangsur menjadi ’’tanggung untung’’ privat yang
menanamkan investasinya di sektor pelayanan kesehatan. Akhirnya rasio
dan kualitas kesehatan masyarakat sangat dependen terhadap kemampuan
(ability) personal dalam mengakses standar pelayanan kesehatan.
Bagi yang berakses tinggi, tentu bisa mendapatkan pelayanan kesehatan
yang memadai, optimal, dan high medical technology. Tetapi bagi
kelompok yang berakses rendah, karena pendapatannya kurang atau
pas-pasan, hanya akan mendapat pelayanan ala kadarnya.
Sudut Perhatian
Tingkat atau indeks kesehatan masyarakat yang objektif bisa diukur
dari dimensi keadilan gender, seperti alokasi belanja anggaran
kesehatan negara untuk subsidi pelayanan pemeliharaan kesehatan
masyarakat.
Indikator pelayanan kesehatan yang berkeadilan gender secara
konseptual maupun numerik bisa dibaca dengan berbagai sudut perhatian.
Pertama, level kuantitas dan kualitas anggaran kesehatan yang
difokuskan untuk melayani kepentingan kaum perempuan dan anak batita /
balita. Jika alokasi anggaran kesehatan (pusat maupun daerah) untuk
pelayanan kesehatan publik minimal menyentuh angka 30 persen untuk
perempuan dan balita, maka sudah memenuhi kelayakan sebagai
berkeadilan gender.
Kedua, tingkat aksesibilitas pelayanan kesehatan bagi perempuan dan
balita. Jika perempuan dan balita di seluruh pelosok daerah sudah
terpenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan yang berkulitas, dan
terjangkau oleh pendapatan keluarga mereka, serta tak mengambil jatah
komsumsi keluarga yang tidak terencana, maka hal tersebut bisa
dikategorikan sebagai pelayanan berkeadilan gender.
Ketiga, skala prioritas pelayanan kesehatan untuk perempuan (ibu
hamil, ibu menyusui, lansia perempuan, balita perempuan) ketika mereka
memerlukan ikhtiar pelayanan kesehatan di berbagai institusi pelayanan
kesehatan.
Dengan ketiga indikator tersebut, maka akan terlihat kualitas
kesehatan perempuan yang bisa dibaca dari makin menurunnya angka
kematian ibu hamil, terpenuhinya gizi balita dan ibu menyusui,
menurunnya angka kematian ibu melahirkan, dan sebagainya. Tentu saja
data ini harus dikumpulkan secara objektif, tanpa tendensi manipulasi.
Pelayanan kesehatan berkeadilan gender tidak mendiskriminasi perempuan
yang membutuhkan fasilitasi kesehatan dengan membedakan status sosial
/ ekonomi dan posisi ’’kelas’’ sosial. Ada kesemarataan dalam
pelayanan kesehatan.
Pelayanan kesehatan berkeadilan gender juga memperkuat wawasan gender
bagi segenap praktisi dan perangkat hidup pada sektor pelayanan
kesehatan. Ini menjadi sebuah gagasan dan implementasi yang
berkelanjutan. (32)
— Yusuf A Kusmanto, dokter dan bertugas di Puskesmas II Eromoko,
Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri.
Sumber:
http://suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=67192
DALAM riset anggaran daerah yang mengambil fokus di Kabupaten Bantul
dan Kabupaten Gunungkidul (DIY), Dati Fatimah —peneliti gender dari
IDEA Yogyakarta— menyebutkan anggaran daerah selama periode 2000-2004
untuk kegiatan posyandu di kedua daerah itu hanya sekitar 0,2 persen
dari total anggaran APBD.
Anggaran untuk posyandu (pos pelayanan terpadu) begitu minimal.
Padahal kegiatan posyandu merupakan tolok ukur keberpihakan anggaran
publik atas kepentingan kaum perempuan, dalam hal ini ibu hamil, ibu
menyusui, serta anak di bawah usia tiga tahun (batita) dan anak di
bawah lima tahun (balita).
Ibarat tubuh manusia, posyandu merupakan ’’jantung’’ dari program
pelayanan kesehatan yang menjadi teropong sejauhmana standar
kesuksesan pelayanan peningkatan gizi dan kualitas hidup masyarakat.
Selama ini yang menjadi tolok ukur dalam pelayanan kesehatan terhadap
masyarakat yang dilakukan institusi negeri maupun swasta selalu
bersifat luxury oriented.
Apa yang disebut pelayanan kesehatan berkualitas ditentukan oleh
kondisi infrastruktur medis serta kapabilitas pelayanan kesehatan yang
memiliki kaitan dengan kecakapan pembiayaan (to fund).
Hal tersebut tidak terlepas dari kondisi komersialisasi sektor
kesehatan akibat laju globalisasi yang berfokus kepada akumulasi modal
di sektor publik, yang seharusnya diproteksi oleh negara.
Kesehatan masyarakat yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara,
lambat laun berangsur menjadi ’’tanggung untung’’ privat yang
menanamkan investasinya di sektor pelayanan kesehatan. Akhirnya rasio
dan kualitas kesehatan masyarakat sangat dependen terhadap kemampuan
(ability) personal dalam mengakses standar pelayanan kesehatan.
Bagi yang berakses tinggi, tentu bisa mendapatkan pelayanan kesehatan
yang memadai, optimal, dan high medical technology. Tetapi bagi
kelompok yang berakses rendah, karena pendapatannya kurang atau
pas-pasan, hanya akan mendapat pelayanan ala kadarnya.
Sudut Perhatian
Tingkat atau indeks kesehatan masyarakat yang objektif bisa diukur
dari dimensi keadilan gender, seperti alokasi belanja anggaran
kesehatan negara untuk subsidi pelayanan pemeliharaan kesehatan
masyarakat.
Indikator pelayanan kesehatan yang berkeadilan gender secara
konseptual maupun numerik bisa dibaca dengan berbagai sudut perhatian.
Pertama, level kuantitas dan kualitas anggaran kesehatan yang
difokuskan untuk melayani kepentingan kaum perempuan dan anak batita /
balita. Jika alokasi anggaran kesehatan (pusat maupun daerah) untuk
pelayanan kesehatan publik minimal menyentuh angka 30 persen untuk
perempuan dan balita, maka sudah memenuhi kelayakan sebagai
berkeadilan gender.
Kedua, tingkat aksesibilitas pelayanan kesehatan bagi perempuan dan
balita. Jika perempuan dan balita di seluruh pelosok daerah sudah
terpenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan yang berkulitas, dan
terjangkau oleh pendapatan keluarga mereka, serta tak mengambil jatah
komsumsi keluarga yang tidak terencana, maka hal tersebut bisa
dikategorikan sebagai pelayanan berkeadilan gender.
Ketiga, skala prioritas pelayanan kesehatan untuk perempuan (ibu
hamil, ibu menyusui, lansia perempuan, balita perempuan) ketika mereka
memerlukan ikhtiar pelayanan kesehatan di berbagai institusi pelayanan
kesehatan.
Dengan ketiga indikator tersebut, maka akan terlihat kualitas
kesehatan perempuan yang bisa dibaca dari makin menurunnya angka
kematian ibu hamil, terpenuhinya gizi balita dan ibu menyusui,
menurunnya angka kematian ibu melahirkan, dan sebagainya. Tentu saja
data ini harus dikumpulkan secara objektif, tanpa tendensi manipulasi.
Pelayanan kesehatan berkeadilan gender tidak mendiskriminasi perempuan
yang membutuhkan fasilitasi kesehatan dengan membedakan status sosial
/ ekonomi dan posisi ’’kelas’’ sosial. Ada kesemarataan dalam
pelayanan kesehatan.
Pelayanan kesehatan berkeadilan gender juga memperkuat wawasan gender
bagi segenap praktisi dan perangkat hidup pada sektor pelayanan
kesehatan. Ini menjadi sebuah gagasan dan implementasi yang
berkelanjutan. (32)
— Yusuf A Kusmanto, dokter dan bertugas di Puskesmas II Eromoko,
Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri.
Sumber:
http://suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=67192
Wednesday, April 22, 2009
Aku Kartini
"Aku ingin jadi Kartini"
Kuucapkan kalimat itu lantang ketika ku SD. Ketika itu ibu guru menyuruh kami menyebutkan tokoh pahlawan yang diidolakan. Saat itu sesungguhnya aku tak kenal siapa Kartini. Lantangku saat itu hanya untuk mengalahkan lantang nya kawan-kawanku menyebut tokoh pahlawannya.
Bagiku Kartini saat itu, hanya wanita anggun, berwajah bulat, berkebaya putih di pajang di deretan pahlawan di dinding kelas. Kupilih dia karena kami punya kesamaan, sama sama perempuan.
Ya..ya..memang ada gambar perempuan lain, ada Cut Nyak Dhien, Martha Cristhina Tiahahu terpajang juga di dinding kelas. Karakter keras tampak di wajah mereka. Mungkin karena itu, Aku tidak begitu suka mereka saat itu. Bagiku perempuan ideal itu ya..Kartini. Wajahnya lembut, seperti Ibuku.
Ya..ya..seingatku ada juga Pahlawan pemilik wajah keibuan. Namanya Dewi Sartika. Tapi ah..aku tak juga begitu suka. Masih lebih cantik Kartini.
Salahkah?. Ah.. saat itu aku tak perduli.
Lalu, perlahan aku kenal dia. Kartini itu, pejuang hak perempuan. Dengan caranya yang tak langsung aku bisa sekolah dengan bebasnya. Kartini anak Bupati Jepara, Suka menulis surat, Kumpulan suratnya kemudian menjadi buku, judulnya, habis gelap terbitlah terang. Tak pernah aku baca bukunya. Aku hanya simpulkan, buku itu lah yang mengabadikan namanya.
******
"Kenapa Kartini?" tanya seorang sahabat.
"Lha..apa yang salah dengan Kartini?" Sahutku bingung malah balik bertanya. Bukankah umumnya anak perempuan di Indonesia mengidolakan Kartini?. Bagiku malah pertanyaan temanku ini yang aneh.
"Sebenarnya yang lebih layak populer itu adalah Dewi Sartika. Dia mendirikan sekolah perempuan pertama. Bukan Kartini. Kartini hanya meniru saja, melanjutkan perjuangan Dewi Sartika saja.
Sedangkan Kartini..Perjuangannya pun tak segarang Cut Nyak Dhien yang membuat Belanda kehabisan akal menghabisi Aceh. Apa sih.. yang diperbuat Kartini bagi bangsanya?. Bukankah dia hanya menulis?, menjadi Istri yang di madu, lalu meninggal di usia muda. Aku ragu dengan kelayakannya sebagai Pahlawan Nasional".
Aku hanya terdiam. Di benakku mulai setuju dengan temanku. Ada benarnya juga dia. Ya..apa hebatnya Kartini??. Tak terbersit satu alasan kuat dan ampuh di otakku untuk aku membalas pemikiran sahabatku itu. Dan karena aku tak ingin terlihat bodoh...kujawab saja sekenanya.
"Tapi...apa pentingnya membandingkan kepopuleran pahlawan?. Bagaimanapun mereka telah berjasa bagi negeri. Untuk apalah dirirbut-ributkan siapa yang lebih populer, dan siapa yang benar benar pahlawan sejati. Yang penting aku suka aja". Jawabku seolah tak perduli dengan pemikirannya.
Tapi sahabat itu tak menyerah juga. katanya..
" Bagaimana bisa kamu meneladaninya, kalau kamu sendiri tidak tau apa yang dia lakukan bagi negeri ini, Harusnya yang kamu jadikan Idola adalah yang terbaik. Yang benar-benar layak mendapat gelar pahlawan nasional, bukan karena banyak orang-orang menyebutnya sebagai Pahwalan Nasional".
Saat itu aku masih SMP, dan tak ambil perduli dengan ucapan temanku yang aneh itu. Aneh karena dia sendiri perempuan yang kukenalyang tak suka Kartini. Semua suka Kartini. Sampai ada lagunya, bukan?
ibu kita Kartini
putri sejati
putri Indonesia
Harum namanya
....
******
Lalu ketika aku SMA, tak sengaja, tepat di hari Kartini kubaca artikel seputar Tokoh idolaku itu. Isinya menggugat kebenaran surat-surat Kartini. Alasannya, tak mungkinlah anak usia 16 tahun sudah bisa menulis dengan analisa sedalam itu. Mampu mengkritisi Agama, kondisi perempuan, pendidikan dan lain-lain.Saat itu aku berfikir sejenak..benarkah tak bisa?. Kubandingkan Kartini dengan diriku saat itu di usia yang sama. Yah..memang aku tak punya selembar tulisanpun kecuali tugas mengarang di sekolah. Mungkin benarlah pemikiran penulis artikel itu, karena dia sendiripun tak mampu menandingi tulisan Kartini meski usianya sudah melewati usia Kartini saat menulis surat-suratnya itu.
Namun saat itu,aku juga tak begitu perduli dengan pemikiran artikel tersebut. Aku lebih berasa Malu. Malu pada diri sendiri. Aku malu pada Kartini.
Begitu banyak fasilitas yang kuterima, begitu bebas aku mendapatkan apapun yang kuinginkan. Tapi aku tak secemerlang Kartini dengan segala keterbatasan perempuan di zamannya.
Ya.. aku tak perduli dengan pemikiran artikel koran itu.
Ah..tak perduli akan benar tidaknya keaslian tulisan Kartini. Aku ingin bisa seperti Kartini yang menulis kondisi bangsanya.
Sejak itu akupun mulai menulis. Semakin sering aku menulis, semakin butuh aku membaca. Pahamlah aku, kenapa Kartini lebih populer dari pahlawan perempuan lainnya.
Karena...Kartini menulis sejarahnya sendiri.
Kartini tak tunduk pada History, Tapi Kartini menulis Herstory.
*****
Dan pagi ini. Di depan cermin usai kusemat hiasan jilbabku.
Aku bergumam sendiri, meneguhkan hati.
Aku mungkin tak secemerlang Kartini.
Mungkin tinta pena ku tumpah hingga ke eropa sana.
Mungkin kelak Aku tak akan mengabadi seperti Abadinya Kartini di benak perempuan Indonesia.
Tapi wahai Kartini, Pahlawanku, Aku lebih berani dari dirimu.
***
Kukecup kening Ayah Ibukuku, kuciumi kedua tangannya, dan bersimpuh di Kakinya.
" Maafkan Kartini, karena telah bercerai dengan Mas Ario. Cukup sudah Kartini disakiti. Tak kan kubiarkan anak-anakku belajar menyakiti. Jangan Ayah Ibu ragukan masa depan anak-anakku. Kartini bisa menghidupi mereka. Relakan saja Kartini dengan jalan hidup yang Kartini pilih, karena aku..Kartini".
Wajah renta mereka perih melepasku. Perih itu semakin menusuk luka hatiku yang menganga. Sungguh Aku mencintai mereka berdua. Tapi aku harus bangkit. Ku gandeng kedua anakku. Sekolah Perempuan menanti untuk ku bangun.
***
Kuucapkan kalimat itu lantang ketika ku SD. Ketika itu ibu guru menyuruh kami menyebutkan tokoh pahlawan yang diidolakan. Saat itu sesungguhnya aku tak kenal siapa Kartini. Lantangku saat itu hanya untuk mengalahkan lantang nya kawan-kawanku menyebut tokoh pahlawannya.
Bagiku Kartini saat itu, hanya wanita anggun, berwajah bulat, berkebaya putih di pajang di deretan pahlawan di dinding kelas. Kupilih dia karena kami punya kesamaan, sama sama perempuan.
Ya..ya..memang ada gambar perempuan lain, ada Cut Nyak Dhien, Martha Cristhina Tiahahu terpajang juga di dinding kelas. Karakter keras tampak di wajah mereka. Mungkin karena itu, Aku tidak begitu suka mereka saat itu. Bagiku perempuan ideal itu ya..Kartini. Wajahnya lembut, seperti Ibuku.
Ya..ya..seingatku ada juga Pahlawan pemilik wajah keibuan. Namanya Dewi Sartika. Tapi ah..aku tak juga begitu suka. Masih lebih cantik Kartini.
Salahkah?. Ah.. saat itu aku tak perduli.
Lalu, perlahan aku kenal dia. Kartini itu, pejuang hak perempuan. Dengan caranya yang tak langsung aku bisa sekolah dengan bebasnya. Kartini anak Bupati Jepara, Suka menulis surat, Kumpulan suratnya kemudian menjadi buku, judulnya, habis gelap terbitlah terang. Tak pernah aku baca bukunya. Aku hanya simpulkan, buku itu lah yang mengabadikan namanya.
******
"Kenapa Kartini?" tanya seorang sahabat.
"Lha..apa yang salah dengan Kartini?" Sahutku bingung malah balik bertanya. Bukankah umumnya anak perempuan di Indonesia mengidolakan Kartini?. Bagiku malah pertanyaan temanku ini yang aneh.
"Sebenarnya yang lebih layak populer itu adalah Dewi Sartika. Dia mendirikan sekolah perempuan pertama. Bukan Kartini. Kartini hanya meniru saja, melanjutkan perjuangan Dewi Sartika saja.
Sedangkan Kartini..Perjuangannya pun tak segarang Cut Nyak Dhien yang membuat Belanda kehabisan akal menghabisi Aceh. Apa sih.. yang diperbuat Kartini bagi bangsanya?. Bukankah dia hanya menulis?, menjadi Istri yang di madu, lalu meninggal di usia muda. Aku ragu dengan kelayakannya sebagai Pahlawan Nasional".
Aku hanya terdiam. Di benakku mulai setuju dengan temanku. Ada benarnya juga dia. Ya..apa hebatnya Kartini??. Tak terbersit satu alasan kuat dan ampuh di otakku untuk aku membalas pemikiran sahabatku itu. Dan karena aku tak ingin terlihat bodoh...kujawab saja sekenanya.
"Tapi...apa pentingnya membandingkan kepopuleran pahlawan?. Bagaimanapun mereka telah berjasa bagi negeri. Untuk apalah dirirbut-ributkan siapa yang lebih populer, dan siapa yang benar benar pahlawan sejati. Yang penting aku suka aja". Jawabku seolah tak perduli dengan pemikirannya.
Tapi sahabat itu tak menyerah juga. katanya..
" Bagaimana bisa kamu meneladaninya, kalau kamu sendiri tidak tau apa yang dia lakukan bagi negeri ini, Harusnya yang kamu jadikan Idola adalah yang terbaik. Yang benar-benar layak mendapat gelar pahlawan nasional, bukan karena banyak orang-orang menyebutnya sebagai Pahwalan Nasional".
Saat itu aku masih SMP, dan tak ambil perduli dengan ucapan temanku yang aneh itu. Aneh karena dia sendiri perempuan yang kukenalyang tak suka Kartini. Semua suka Kartini. Sampai ada lagunya, bukan?
ibu kita Kartini
putri sejati
putri Indonesia
Harum namanya
....
******
Lalu ketika aku SMA, tak sengaja, tepat di hari Kartini kubaca artikel seputar Tokoh idolaku itu. Isinya menggugat kebenaran surat-surat Kartini. Alasannya, tak mungkinlah anak usia 16 tahun sudah bisa menulis dengan analisa sedalam itu. Mampu mengkritisi Agama, kondisi perempuan, pendidikan dan lain-lain.Saat itu aku berfikir sejenak..benarkah tak bisa?. Kubandingkan Kartini dengan diriku saat itu di usia yang sama. Yah..memang aku tak punya selembar tulisanpun kecuali tugas mengarang di sekolah. Mungkin benarlah pemikiran penulis artikel itu, karena dia sendiripun tak mampu menandingi tulisan Kartini meski usianya sudah melewati usia Kartini saat menulis surat-suratnya itu.
Namun saat itu,aku juga tak begitu perduli dengan pemikiran artikel tersebut. Aku lebih berasa Malu. Malu pada diri sendiri. Aku malu pada Kartini.
Begitu banyak fasilitas yang kuterima, begitu bebas aku mendapatkan apapun yang kuinginkan. Tapi aku tak secemerlang Kartini dengan segala keterbatasan perempuan di zamannya.
Ya.. aku tak perduli dengan pemikiran artikel koran itu.
Ah..tak perduli akan benar tidaknya keaslian tulisan Kartini. Aku ingin bisa seperti Kartini yang menulis kondisi bangsanya.
Sejak itu akupun mulai menulis. Semakin sering aku menulis, semakin butuh aku membaca. Pahamlah aku, kenapa Kartini lebih populer dari pahlawan perempuan lainnya.
Karena...Kartini menulis sejarahnya sendiri.
Kartini tak tunduk pada History, Tapi Kartini menulis Herstory.
*****
Dan pagi ini. Di depan cermin usai kusemat hiasan jilbabku.
Aku bergumam sendiri, meneguhkan hati.
Aku mungkin tak secemerlang Kartini.
Mungkin tinta pena ku tumpah hingga ke eropa sana.
Mungkin kelak Aku tak akan mengabadi seperti Abadinya Kartini di benak perempuan Indonesia.
Tapi wahai Kartini, Pahlawanku, Aku lebih berani dari dirimu.
***
Kukecup kening Ayah Ibukuku, kuciumi kedua tangannya, dan bersimpuh di Kakinya.
" Maafkan Kartini, karena telah bercerai dengan Mas Ario. Cukup sudah Kartini disakiti. Tak kan kubiarkan anak-anakku belajar menyakiti. Jangan Ayah Ibu ragukan masa depan anak-anakku. Kartini bisa menghidupi mereka. Relakan saja Kartini dengan jalan hidup yang Kartini pilih, karena aku..Kartini".
Wajah renta mereka perih melepasku. Perih itu semakin menusuk luka hatiku yang menganga. Sungguh Aku mencintai mereka berdua. Tapi aku harus bangkit. Ku gandeng kedua anakku. Sekolah Perempuan menanti untuk ku bangun.
***
Thursday, December 25, 2008
Memoria para Sekjend ku (1)
Para adik Kohati sering mengungkapkan kekaguman mereka tentang kedekatanku dengan Sekretaris Umumku. Karena nyaris selalu terlihat berdua, bahkan pasca kepengursan. Adik-adik yang sedikit jahil, malah memelintir kekagumannya dengan kecurigaan bahwa aku dan sekum ku adalah pasangan homoseksual. Kalau sampai disini, ku jewer lah anak itu.
Kutuliskan pengalamanku ini, untuk mengenang mereka. Sungguh tak habis pikir aku, jika menjadi ketua umum tanpa dampingan mereka. Pada adik-adik Kohati selalu kuingatkan, jangan jadikan Sekum sebagai musuh politik. Sekum bagai tangan dan kakimu, teman seia sekata. Saat menentukan Sekum, tentukan dengan pertimbangan matang betul, bahwa dia akan menjadi mitramu sampai akhir kepengurusan, yang lebih tau seluk beluk kepengurusan sebenarnya daripada pengurus yang lain, yang paling paham dan mampu mendukung ide-idemu terealisasi. Sekum adalah orang kedua setelah ketua Umum. Bagai Ibu dalam kepengurusan.
Maka inilah rekamanku tentang Sekretaris Umumku:
Aku punya 2 sekretaris umum, biasa ku sebut Sekjend, singkatan dari sekretaris jendral, biar lebih terdengar keren dan berwibawa. Panggilan itu bentuk penghargaan ku setinggi-tingginya atas kesetiaan mereka bahu membahu, suka dan duka selama menjabat pengurus.
Sekjend ku yang pertama bernama Nurmaulina Lubis, atau Lina. Dia berperan besar pada kemenanganku sebagai ketua umum. Tamatan Syariah IAIN-SU, bergandengan dengan tamatan Teknik USU, dua komisariat yang dalam pergelutan politik di HMI cabang Medan, sering sekali menjadi seteru. Kami berdua, malah berkolaborasi saling memenangkan dan berkarya di Kohati badko Sumut.
Masa-masa bersama Lina, satu semester kepengurusan adalah masa-masa melarat. Konflik yang terjadi akibat persaingan politik pasca Musda terpilihnya aku, konsolidasi pengurus dengan berbagai karakter, Persoalan ekonomiku secara pribadi yang sedang morat-marit merintis karir sebagai arsitek, dan Lina sendiri luntang lantung berjuang hidup di perantauan Medan, pasca kesarjanaanya yang menganggur.
Luwesnya Lina dalam lobi melobi, banyak membantu kekakuanku dalam membangun jaringan. Aku banyak belajar darinya. Lina adalah Guru keduaku dalam berkomunikasi setelah Mbak Yuyun.
Lina ini paling rewel dengan penampilanku. Aku harus pakai sepatu ber-hak yang paling kubenci. Kebayanglah, jika aku pakai sepatu rata saja masih bisa keseleo apalagi dengan sepatu hak tinggi. Tapi ya, aku harus menurut juga. Penampilan harus kujaga, meski melarat masa itu, aku tak ingin orang langsung merendahkan diriku sebelum tau kualitas diriku, hanya karena lembaran kain sepatu yang bisa kuganti-ganti.
Maka, aku biasakan memakai sepatu hak 5 centi, sesekali memakai jas yang feminim, dan warna baju rada gelap.
Tak ada kegiatan besar selama satu semester bersama Lina. Tentu karena krisis moneter kepengurusanku. Semuanya sedang dibangun. Tapi Aku dan Lina sering turun kedaerah, mengisi materi ke-kohatian di LK-I, menghadiri undangan diskusi mereka. Entah dari mana datangnya uang, selalu saja ada tepat untuk kegiatan ini.
Lina mengundurkan diri dari kepengurusan karena Menikah dan tinggal di kampungnya. Dia menyerah juga dengan kerasnya hidup di Medan, dan meninggalkan rasa bersalah padaku, karena tak mampu membantu banyak dalam persoalan kehidupannya di Medan. Stres benar aku, karena bersamaan dengan menikahnya dia, para ketua umum kohati yang baru demisioner juga pada nikah. Pada kawan-kawan masa itu, Aku sering latah dan berkata, "Sepertinya proyek kerja ku adalah menghadiri pernikahan kohati se-Sumut deh".
Pusing tujuh keliling aku mencari penggantinya. Saat itu aku tak melihat ada yang bisa menggantikan Lina. Keliahaiannya dalam administrasi, membawa rapat-rapat dan keluwesannya melobi. Imam, ketua umum badko ku masa itu, menyarankan satu nama : Ira. Aku cuma bisa diam penuh pertimbangan dalam beberapa hari.
Saat ini Lina, menjadi kepala desa di kampungnya, Dolok Marsihul, Kabupaten Serdang Berdagai. Lina menjadi salah satu kepala desa di Sumut, terpilih melalui sistem demokrasi. Pendidikan Politik yang di asahnya di Kohati, benar-benar tak bisa lekang. Salut benar buat Lina.
Thursday, December 04, 2008
hee?????
Aku bingung sendiri pada tanggapan milist kohati pb terhadap postingku sebelumnya.
Kok malah di respon soal budaya buku di HMI doank ya???
aku yang salah nuliskah??atau yang baca neh yang ngawur?.
aku kan nawarin konsep ebook bagi alternatif buku kader HMI.
but anyway..
aku akan perbaiki gaya tulisanku deh. Mungkin rada menjalar kemana-mana. Maklumlah letupan ide klo lagi bersinar kayak bola lampu. Sanking banyaknya letupan ide, tak sanggup merekamnya. So..
Posting berikutnya akan lebih fokus.
aku akan menulis tentang membangun budaya Internet di HMI. (InsyaAllah, klo si ide muncul)
Hmm..keren neh klo bisa di realisasikan.
kebayang lah berapa banyak batang pohon yang bisa di selamatkan?
hehehe..
bingung kan??penulis blog ini di kader di HMI atau di greenpeace ya???
yang jelas pecinta peace.. lah!
Kok malah di respon soal budaya buku di HMI doank ya???
aku yang salah nuliskah??atau yang baca neh yang ngawur?.
aku kan nawarin konsep ebook bagi alternatif buku kader HMI.
but anyway..
aku akan perbaiki gaya tulisanku deh. Mungkin rada menjalar kemana-mana. Maklumlah letupan ide klo lagi bersinar kayak bola lampu. Sanking banyaknya letupan ide, tak sanggup merekamnya. So..
Posting berikutnya akan lebih fokus.
aku akan menulis tentang membangun budaya Internet di HMI. (InsyaAllah, klo si ide muncul)
Hmm..keren neh klo bisa di realisasikan.
kebayang lah berapa banyak batang pohon yang bisa di selamatkan?
hehehe..
bingung kan??penulis blog ini di kader di HMI atau di greenpeace ya???
yang jelas pecinta peace.. lah!
Tuesday, December 02, 2008
Internet dan Buku usangnya HMI
Aku kedatangan tamu dari Goodreads Indonesia, Jakarta. Dia ingin jalan-jalan keliling Sumut.
Namanya Erry. Kuajak dia melihat sisa reruntuhan Kerajaan Langkat di Tanjung Pura, dan menyapa adik-adik Kohati Langkat.
Sambil menyelam minum airlah...
Sambil menambah teman, sambil jalan-jalan, sambil menambah semangat dan wawasan adik-adik Kohati yang merasa "memble" dalam beraktifitas.
Goodread Indonesia (GI), menurut ku adalah komunitas yang unik dan positif. Dari sekedar pajang buku yang di baca di Internet, berkenalan, ber-kopi darat alias temu muka, kemudian berkembang dalam berbagai kegiatan sejarah, sosial, budaya seputar perubukuan. Semangat yang ingin kuhadirkan dengan kedatangan Erry/GI di Kohati langkat yang sedang jenuh ini adalah,
berorganisasi lah dengan senang hati. Jangan menganggap rutinitas yang ada sebagai beban. Kreatif dalam menjaga semangat beraktifitas.

Nah..Erry pu bercerita dan mempromosikan GI, mulai dari sejarah dan apa saja aktifitasnya sampai sekarang telah berusia setahun.
He..he..he, dia kaget waktu aku interupsi saat dia mengenalkan bahwa goodreads ini semacam friendster, yang lebih spesifik ke hobi baca.
"ehm..maaf Erry, adik-adik HMI langkat tidak kenal friedster. Email saja, sebagian mereka masih buta".
Lucu juga lihat wajah bengong Erry. Tapi itulah realitasnya Erry.
Internet, adalah teknologi kota. Paling luas jangkauannya hanya sampai Ibukota Propinsi. Di Ibukota Kabupaten, di pusat pendidikan Kabupaten langkat, tepat pula di kelas intelektualnya ini contohnya...email saja adalah barang mewah. Apalagi mengenal situs-situs sosial didalamnya...
Miris bukan?. Sementara kita lihat iklan Layanan Sosial pemerintah, seolah internet menjangkau desa, dan familiar dengan anak SD pula.
Leli, sang Ketua Kohati, senyum-senyum malu mendengar penjelasanku. Dia baru sebulan mengenal internet. Satu diantara 3 pengurus yang punya email. (punya tapi blum tau manfaatnya).
Leli pun memaparkan masalah yang dihadapinya di HMI cabang Langkat. Buku-buku perkaderan sulit di dapat. Sementara sistem perkaderan kita menuntut untuk membaca buku. Maka dengan semangat empat lima, dibentuknya perpustakaan Kohati dengan menyodorkan daftar buku yang harus disumbang alumni. (nodong nee).
Daftar buku itu adalah buku-buku yang ada dalam Pedoman Dasar Kohati(PDK). Buku yang jadi acuan dalam pelaksanaan Latihan Khusus Kohati. Harapannya Erry bisa bantu untuk pengadaanya.
Erry pun cuma bisa nyengir melihat daftar buku itu. Meski dia pernah di HMI, tapi tak semua buku itu pernah di bacanya, dan yang jelas, buku-buku itu sudah sangat sulit di temukan terpampang di toko buku terbesar dan terlengkap di Indonesia sekalipun.
Yap..buku-buku tersebut keluaran tahun 80-90an. Buku usang meski memang bagus. Tapi aku yakin sekali, diantara kader Kohati saat ini, membaca SATU saja dari 30-an daftar buku di PDK, kader sudah cukup beruntung. Karena, buku-buku itu tak beredar di pasaran lagi. Saat ini cara mendapatkannya adalah mencari di perpustakaan (setelah menunggu daftar antri yang panjang), atau meminjam dari senioren. (ehm..Bukankah ada motto unik HMI soal pinjam meminjam buku nee??).
Aku beri tawaran ke kawan-kawan HMI.
1. Up date buku-buku di konstitusi dan pedoman-pedoman HMI dengan buku yang ada diperedaran. Sehingga buku bisa dijangkau untuk dibeli oleh kader.
Usulkan ke PB dunk!.
Aneh bukan?, organisasi mahasiswa tidak mengupdate buku-buku baru?.
Apakah pengetahuan tidak berkembang sejak tahun 90-an?, atau kader yang tak lagi baca buku?.
Usulku berikutnya..(aku sudah pernah bicarakan ini ke Istaz, ketua Bakornas BPL)
2. Jika memang buku usang tersebut tak tergantikan dengan wacana kekinian, buatlah e-book nya. Sedikit rajinlah me-scan buku dan membagikannya.
Pajang di Website PB HMI agar bisa di download kader lainnya. Sebarkan di semua cabang, atau bagikan dalam bentuk soft copy pada setiap momen kumpul-kumpul HMI.
Memang sih, ide kedua ini bisa dikatakan pembajakan. Tapi demi intelektualitas HMI yang mulai di pertanyakan...tak bisakah kita sedikit berkelit???
YUS.
Namanya Erry. Kuajak dia melihat sisa reruntuhan Kerajaan Langkat di Tanjung Pura, dan menyapa adik-adik Kohati Langkat.
Sambil menyelam minum airlah...
Sambil menambah teman, sambil jalan-jalan, sambil menambah semangat dan wawasan adik-adik Kohati yang merasa "memble" dalam beraktifitas.
Goodread Indonesia (GI), menurut ku adalah komunitas yang unik dan positif. Dari sekedar pajang buku yang di baca di Internet, berkenalan, ber-kopi darat alias temu muka, kemudian berkembang dalam berbagai kegiatan sejarah, sosial, budaya seputar perubukuan. Semangat yang ingin kuhadirkan dengan kedatangan Erry/GI di Kohati langkat yang sedang jenuh ini adalah,
berorganisasi lah dengan senang hati. Jangan menganggap rutinitas yang ada sebagai beban. Kreatif dalam menjaga semangat beraktifitas.
Nah..Erry pu bercerita dan mempromosikan GI, mulai dari sejarah dan apa saja aktifitasnya sampai sekarang telah berusia setahun.
He..he..he, dia kaget waktu aku interupsi saat dia mengenalkan bahwa goodreads ini semacam friendster, yang lebih spesifik ke hobi baca.
"ehm..maaf Erry, adik-adik HMI langkat tidak kenal friedster. Email saja, sebagian mereka masih buta".
Lucu juga lihat wajah bengong Erry. Tapi itulah realitasnya Erry.
Internet, adalah teknologi kota. Paling luas jangkauannya hanya sampai Ibukota Propinsi. Di Ibukota Kabupaten, di pusat pendidikan Kabupaten langkat, tepat pula di kelas intelektualnya ini contohnya...email saja adalah barang mewah. Apalagi mengenal situs-situs sosial didalamnya...
Miris bukan?. Sementara kita lihat iklan Layanan Sosial pemerintah, seolah internet menjangkau desa, dan familiar dengan anak SD pula.
Leli, sang Ketua Kohati, senyum-senyum malu mendengar penjelasanku. Dia baru sebulan mengenal internet. Satu diantara 3 pengurus yang punya email. (punya tapi blum tau manfaatnya).
Leli pun memaparkan masalah yang dihadapinya di HMI cabang Langkat. Buku-buku perkaderan sulit di dapat. Sementara sistem perkaderan kita menuntut untuk membaca buku. Maka dengan semangat empat lima, dibentuknya perpustakaan Kohati dengan menyodorkan daftar buku yang harus disumbang alumni. (nodong nee).
Daftar buku itu adalah buku-buku yang ada dalam Pedoman Dasar Kohati(PDK). Buku yang jadi acuan dalam pelaksanaan Latihan Khusus Kohati. Harapannya Erry bisa bantu untuk pengadaanya.
Erry pun cuma bisa nyengir melihat daftar buku itu. Meski dia pernah di HMI, tapi tak semua buku itu pernah di bacanya, dan yang jelas, buku-buku itu sudah sangat sulit di temukan terpampang di toko buku terbesar dan terlengkap di Indonesia sekalipun.
Yap..buku-buku tersebut keluaran tahun 80-90an. Buku usang meski memang bagus. Tapi aku yakin sekali, diantara kader Kohati saat ini, membaca SATU saja dari 30-an daftar buku di PDK, kader sudah cukup beruntung. Karena, buku-buku itu tak beredar di pasaran lagi. Saat ini cara mendapatkannya adalah mencari di perpustakaan (setelah menunggu daftar antri yang panjang), atau meminjam dari senioren. (ehm..Bukankah ada motto unik HMI soal pinjam meminjam buku nee??).
Aku beri tawaran ke kawan-kawan HMI.
1. Up date buku-buku di konstitusi dan pedoman-pedoman HMI dengan buku yang ada diperedaran. Sehingga buku bisa dijangkau untuk dibeli oleh kader.
Usulkan ke PB dunk!.
Aneh bukan?, organisasi mahasiswa tidak mengupdate buku-buku baru?.
Apakah pengetahuan tidak berkembang sejak tahun 90-an?, atau kader yang tak lagi baca buku?.
Usulku berikutnya..(aku sudah pernah bicarakan ini ke Istaz, ketua Bakornas BPL)
2. Jika memang buku usang tersebut tak tergantikan dengan wacana kekinian, buatlah e-book nya. Sedikit rajinlah me-scan buku dan membagikannya.
Pajang di Website PB HMI agar bisa di download kader lainnya. Sebarkan di semua cabang, atau bagikan dalam bentuk soft copy pada setiap momen kumpul-kumpul HMI.
Memang sih, ide kedua ini bisa dikatakan pembajakan. Tapi demi intelektualitas HMI yang mulai di pertanyakan...tak bisakah kita sedikit berkelit???
YUS.
Thursday, November 13, 2008
Antara Kohati cabang dan Kohati PB
Di sela istirahat sebuah pelatihan, Leli, Ketua umum kohati cabang Langkat curhat padaku. Pasalnya dia mendapat sms dari kandidat ketua umum KOHATIi PB HMI yang kalah. Sebuah permohonan maaf karena dia tidak bisa menempatkan posisi orang-orangnya di kepengurusan ketua umum Kohati PB yang terpilih.
Aku tau pasti bahwa tak ada pengurus yang di rekomendasi dari Kohati cabang Langkat. Maka ku bertanya pada Leli.
"Memangnya jika orang-orang kandidat kalah tersebut masuk di kepengurusan akan ada pengaruh positif di Kohati cabang Langkat?"
Leli diam. Tak menemukan jawaban pengaruh yang ada.
Kulanjutkan lagi pertanyaanku, karena aku teringat, aku mengalami hal yang sedikit sama.
"Sebaliknya, Apakah jika kohati cabang Langkat mendukung ketua kohati terpilih sekarang, ada pengaruh positif di Kohati cabang Langkat?".
jawabnya
"Mungkin".
Tetap saja tersirat diwajahnya kebingungan karena tak menemukan jawabannya.
Ya..Mungkin. Itu jawaban yang tepat.
Lebih tepatnya lagi : Nyaris tidak ada.
Hubungan Kohati PB dengan Kohati cabang berbeda dengan hubungan PB HMI dengan HMI cabang. Kohati PB ke kohati cabang hanya memiliki hubungan koordinasi, bukan instruksi. Hubungan Koordinasi ini tak punya kekuatan dalam memberikan sanksi organisasi dalam rangka pembinaan. Seandainya ada Kohati cabang yang tidak melakukan hal-hal yang di gariskan dalam PDK, maka Kohati badko lah yang menjadi tempat konsultasi lebih dulu, bukan Kohati PB HMI. Dan jika pembenahan yang dilakukan, misalnya sanksi organisasi, maka yang berhak melakukan adalah HMI cabang, atau PB HMI.
Dari sini terlihat, Kohati PB HMI hanya simbol adanya keberadaan lembaga kohati di tubuh HMI. Namun fungsinya sebagai pembinaan organisasi di tingkatan lebih rendah berada di Kohati Badko karena kedekatan daerah tentunya.
Aku tau pasti bahwa tak ada pengurus yang di rekomendasi dari Kohati cabang Langkat. Maka ku bertanya pada Leli.
"Memangnya jika orang-orang kandidat kalah tersebut masuk di kepengurusan akan ada pengaruh positif di Kohati cabang Langkat?"
Leli diam. Tak menemukan jawaban pengaruh yang ada.
Kulanjutkan lagi pertanyaanku, karena aku teringat, aku mengalami hal yang sedikit sama.
"Sebaliknya, Apakah jika kohati cabang Langkat mendukung ketua kohati terpilih sekarang, ada pengaruh positif di Kohati cabang Langkat?".
jawabnya
"Mungkin".
Tetap saja tersirat diwajahnya kebingungan karena tak menemukan jawabannya.
Ya..Mungkin. Itu jawaban yang tepat.
Lebih tepatnya lagi : Nyaris tidak ada.
Hubungan Kohati PB dengan Kohati cabang berbeda dengan hubungan PB HMI dengan HMI cabang. Kohati PB ke kohati cabang hanya memiliki hubungan koordinasi, bukan instruksi. Hubungan Koordinasi ini tak punya kekuatan dalam memberikan sanksi organisasi dalam rangka pembinaan. Seandainya ada Kohati cabang yang tidak melakukan hal-hal yang di gariskan dalam PDK, maka Kohati badko lah yang menjadi tempat konsultasi lebih dulu, bukan Kohati PB HMI. Dan jika pembenahan yang dilakukan, misalnya sanksi organisasi, maka yang berhak melakukan adalah HMI cabang, atau PB HMI.
Dari sini terlihat, Kohati PB HMI hanya simbol adanya keberadaan lembaga kohati di tubuh HMI. Namun fungsinya sebagai pembinaan organisasi di tingkatan lebih rendah berada di Kohati Badko karena kedekatan daerah tentunya.
Saturday, October 04, 2008
Saatnya berbicara Porno....
Posting sebelumnya memang sengaja memuat perbandingan antara pro dan kontra RUU Pornografi ini,
Nah berikut adalah opini ku tentang RUU yang menggeliat tepat disaat Minyak dunia di berbagai negara terjadi penurunan harga kecuali di Indonesia (dan anehnya tak ada yang bicara penurunan harga BBM).
Dulu, masa di ku masih pengurus KOHATI, memang aku pernah menjadi penggiat dalam menggol kan RUU APP. Mengumpulkan kawan-kawan untuk memberikan masukan ke Biro PP, kemudian, mengumpulkan tanda tangan dukungan. Tak hanya tingkat sumut, tapi tingkat Nasional aku suntik untuk melakukan pengumpulan tanda tangan dukungan, kemudian di kirimkan ke DPR-RI. Badko yang ikut serta, adalah Kohati Badko HMI Sumut, Riau, Jabotabeka, Jawa barat.
Tahun itu adalah tahun 2005, bulan Agustus di Jakarta.
Sekarang aku punya pandangan sendiri terhadap RUU ini. Tentunya setelah sedikit serius membaca RUU yang katanya sudah di revisi ulang. (sumber RUU nya klik disini)
Tanggapanku adalah:
RUU ini hanya punya semangat tapi lemah penyusunan undang-undang.
Meski aku bukanlah orang hukum, tapi terbaca jelas ketimpangan RUU ini.
1.Ada pasal yang tidak logis dan saling bertentangan dalam undang-undang ini, terutama dengan pasal 3, point B, yang menjadi tujuan RUU ini. Tak menutup kemungkinan ada pasal bertentangan dengan undang-undang lain tapi belum sempat kubandingkan.
Pasal tersebut yaitu:
Pasal 6
aku pikir kata membuat perlu di revisi karena bersifat sangat privasi. tak mungkin negara bisa mengawasi sampai ke proses pembuatan di individu.
pasal 47
Ini pasal paling potensial yang justru melakukan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang jadi objek pornografi
pasal 31 tidak sinkron dan tidak mengakomodir pasal 3 yang menyatakan tujuan RUU ini adalah:
memberikan perlindungan, pembinaan, pendidikan moral dan akhlak kepada masyarakat serta kepastian hukum yang mampu melindungi setiap warganegara, terutama anak dan perempuan dari eksploitasi seksual
Tidak ada pembinaan dalam bagian ketentuan pidana maupun pasal-pasal lain UU ini. kecuali untuk anak (pasal 18).
2. Ada Tunpang tindih dengan KUHP yang telah lebih dulu memuat aturan pornografi secara lebih detail.
Setahu saya, dalam proses pengadilan cenderung menggunakan KUHP, dan lagi dalam KUHP lebih jelas dan detail batasan pornografi dibanding RUU ini sendiri. Sanksi hukum dalam RUU ini yaitu di "pengasingan di daerah terpencil" membingungkan. Aku baru tau ada hukuman seperti ini. klo begini, maka akan lebih jelas sanksi hukuman di KUHP.
3. Ada istilah baru yang tidak di jelaskan dalam penjelasan Undang-undang ini.
Istilah tersebut adalah:
Ponoaksi (pasal4)
daerah terpencil (pasal 31-pasal50)
Mengomentari ketakutan penulis blog pendukung RUU ini, yaitu :
Mereka para pengusaha industri sex yang merasa dirugikan dengan diudangkannya
RUU APP.
Sepertinya salah besar deh...KUHP sudah lama ada untuk menyelesaikan Ponografi di negara ini. Masalahnya adalah Penegakan hukum negara kita memang lemah. Nah ..jika menggunakan RUU yang lemah ini bukankah penegakan hukum juga semakin lemah?,
karena RUU ini sendiri sangat lemah dalam dengan uraian diatas.
Ditambah dengan uraian penjelasan RUU ini yang justru menimbulkan banyak persepsi.(yaitu perbedaan pornografi dengan seni)
Selain itu pula, jika mengacu pada Pasal 47, jelas sekali yang menjadi korban jika RUU ini di sahkan adalah perempuan dan anak bukannya industri sex.isinya sbb;
Setiap orang yang menjadi obyek atau model media yang mengandung muatan pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dipidana dengan pidana denda paling sedikit Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 500.000.000, - (lima ratus juta rupiah) dan/atau kerja sosial paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pengasingan di daerah terpencil paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun
Yang membuat pasal ini, pastilah menganggap bagian tubuh perempuan adalah hal yang tabu, dan berdosa. Anehnya yang disalahkan adalah perempuan yang memiliki tubuh,bukannya mata yang melihat,menikmati, kemudian menyelewengkan keindahan ciptaan Allah tersebut. Pasal ini harus nya tidak ada tapi lebih menghukum kepada si penikmat(ilegal) dan pendistribusi.
Nah..jikalah benar, RUU ini di usung oleh orang-orang Islam....
Wadduh..plis deh..jangan ngaji aja.
Belajar membaca dan menulislah,
masa bikin undang-undang malu-maluin begini.
Nah berikut adalah opini ku tentang RUU yang menggeliat tepat disaat Minyak dunia di berbagai negara terjadi penurunan harga kecuali di Indonesia (dan anehnya tak ada yang bicara penurunan harga BBM).
Dulu, masa di ku masih pengurus KOHATI, memang aku pernah menjadi penggiat dalam menggol kan RUU APP. Mengumpulkan kawan-kawan untuk memberikan masukan ke Biro PP, kemudian, mengumpulkan tanda tangan dukungan. Tak hanya tingkat sumut, tapi tingkat Nasional aku suntik untuk melakukan pengumpulan tanda tangan dukungan, kemudian di kirimkan ke DPR-RI. Badko yang ikut serta, adalah Kohati Badko HMI Sumut, Riau, Jabotabeka, Jawa barat.
Tahun itu adalah tahun 2005, bulan Agustus di Jakarta.
Sekarang aku punya pandangan sendiri terhadap RUU ini. Tentunya setelah sedikit serius membaca RUU yang katanya sudah di revisi ulang. (sumber RUU nya klik disini)
Tanggapanku adalah:
RUU ini hanya punya semangat tapi lemah penyusunan undang-undang.
Meski aku bukanlah orang hukum, tapi terbaca jelas ketimpangan RUU ini.
1.Ada pasal yang tidak logis dan saling bertentangan dalam undang-undang ini, terutama dengan pasal 3, point B, yang menjadi tujuan RUU ini. Tak menutup kemungkinan ada pasal bertentangan dengan undang-undang lain tapi belum sempat kubandingkan.
Pasal tersebut yaitu:
Pasal 6
aku pikir kata membuat perlu di revisi karena bersifat sangat privasi. tak mungkin negara bisa mengawasi sampai ke proses pembuatan di individu.
pasal 47
Ini pasal paling potensial yang justru melakukan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang jadi objek pornografi
pasal 31 tidak sinkron dan tidak mengakomodir pasal 3 yang menyatakan tujuan RUU ini adalah:
memberikan perlindungan, pembinaan, pendidikan moral dan akhlak kepada masyarakat serta kepastian hukum yang mampu melindungi setiap warganegara, terutama anak dan perempuan dari eksploitasi seksual
Tidak ada pembinaan dalam bagian ketentuan pidana maupun pasal-pasal lain UU ini. kecuali untuk anak (pasal 18).
2. Ada Tunpang tindih dengan KUHP yang telah lebih dulu memuat aturan pornografi secara lebih detail.
Setahu saya, dalam proses pengadilan cenderung menggunakan KUHP, dan lagi dalam KUHP lebih jelas dan detail batasan pornografi dibanding RUU ini sendiri. Sanksi hukum dalam RUU ini yaitu di "pengasingan di daerah terpencil" membingungkan. Aku baru tau ada hukuman seperti ini. klo begini, maka akan lebih jelas sanksi hukuman di KUHP.
3. Ada istilah baru yang tidak di jelaskan dalam penjelasan Undang-undang ini.
Istilah tersebut adalah:
Ponoaksi (pasal4)
daerah terpencil (pasal 31-pasal50)
Mengomentari ketakutan penulis blog pendukung RUU ini, yaitu :
Mereka para pengusaha industri sex yang merasa dirugikan dengan diudangkannya
RUU APP.
Sepertinya salah besar deh...KUHP sudah lama ada untuk menyelesaikan Ponografi di negara ini. Masalahnya adalah Penegakan hukum negara kita memang lemah. Nah ..jika menggunakan RUU yang lemah ini bukankah penegakan hukum juga semakin lemah?,
karena RUU ini sendiri sangat lemah dalam dengan uraian diatas.
Ditambah dengan uraian penjelasan RUU ini yang justru menimbulkan banyak persepsi.(yaitu perbedaan pornografi dengan seni)
Selain itu pula, jika mengacu pada Pasal 47, jelas sekali yang menjadi korban jika RUU ini di sahkan adalah perempuan dan anak bukannya industri sex.isinya sbb;
Setiap orang yang menjadi obyek atau model media yang mengandung muatan pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dipidana dengan pidana denda paling sedikit Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 500.000.000, - (lima ratus juta rupiah) dan/atau kerja sosial paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pengasingan di daerah terpencil paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun
Yang membuat pasal ini, pastilah menganggap bagian tubuh perempuan adalah hal yang tabu, dan berdosa. Anehnya yang disalahkan adalah perempuan yang memiliki tubuh,bukannya mata yang melihat,menikmati, kemudian menyelewengkan keindahan ciptaan Allah tersebut. Pasal ini harus nya tidak ada tapi lebih menghukum kepada si penikmat(ilegal) dan pendistribusi.
Nah..jikalah benar, RUU ini di usung oleh orang-orang Islam....
Wadduh..plis deh..jangan ngaji aja.
Belajar membaca dan menulislah,
masa bikin undang-undang malu-maluin begini.
Saturday, August 30, 2008
Amerika Berlomba Membuat Sejarah: Perebutan Antara Ras dan Gender

Penulis: Gadis Arivia
Konvensi Partai Demokrat ditutup oleh Barack Obama pada tanggal 28 Agustus 2008 dengan pidato yang mengguncang rakyat Amerika. Stadium Denver yang megah menghadirkan 85.000 pendukung Barack Obama. Para pendukung ini sebelumnya telah disuguhkan oleh pidato-pidato yang bersejarah mulai dari Michelle Obama, Hillary Clinton, Bill Clinton, Al Gore (bekas wakil presiden dan pemenang hadiah nobel) serta banyak tokoh-tokoh inspiratif lainnya seperti Joe Biden, calon wakil presiden Obama. Konvensi ini bertepatan dengan ulang tahun yang ke-88 hak perempuan untuk memilih dan ulang tahun yang ke-45, mengenang tokoh pergerakan hak-hak sipil, pejuang anti rasisme, Dr. Martin Luther King.
Malam itu malam yang indah khususnya bagi keturunan Afrika-Amerika yang dengan terharu melihat Obama berdiri di atas podium menguraikan pendapatnya tentang apa yang disebut Amerika di abad ke-21. Amerika menurut Obama sedang berubah (change), hendak menghentikan cara-cara politik masa lalu yang tidak memihak rakyat, memperkuat ekonomi kelas menengah dan memperjuangkan kesehatan universal agar kesehatan terjangkau untuk semua kalangan. Obama memaparkan latar belakang keluarganya yang sederhana, diasuh oleh orang tua tunggal (ibunya), mendapatkan beasiswa hingga ke Harvard dan menampik pekerjaan menjadi pengacara top, lalu, memilih bekerja di LSM di Chicago untuk orang-orang miskin dan kini menjadi kandidat presiden Amerikan pertama yang berkulit hitam, ”inilah yang disebut dengan the American dream!,” Obama berkata lantang. Baik Obama dan Michelle berterima kasih kepada Amerika yang telah memungkinkan mereka (anak dari keluarga latar belakang
biasa) bisa mengenyam pendidikan terbaik sehingga bisa menjadi anggota masyarakat yang berkontribusi pada negaranya. Inilah sebabnya ia mau dan siap menjadi pelayan rakyat, bekerja untuk rakyat untuk masa depan Amerika.
”It’s time to change America. We Democrats have a very different measure of what constitutes progress in this country. We measure progress on how many people can find a job that pays mortgage; whether you can put a little extra money away at the end of each month so you can someday watch your child receive college education. We measure the strength of our economy not by the number of billionaires we have or the profits of the Fortune 500, but by whether someone with a good idea can take a risk and start a new business, or whether the waitress who lives on tips can take a day off and look after a sick kid without loosing her job-an economy that honors the dignity of work”.
Baginya, pemerintah harus bekerja untuk rakyat dan bukan menghambat rakyat. Baginya pemerintah harus menolong rakyat dan bukan menyakiti rakyat. Amerika menurutnya adalah negara besar yang harus bebesar hati menghentikan perang irak. Namun sebagai kepala pemerintahan ia akan menjamin keamanan rakyatnya, membela negaranya dari segala ancaman, memberantas al-Queda dan Taliban di Afghanistan serta menghentikan pembuatan senjata nuklir di Iran dan agresi Rusia. Ia menjanjikan semua itu tentunya bukan dengan gaya koboi George Bush, melainkan dengan upaya diplomasi. Ia berjanji:
”I will restore our moral standing, so that America is once again the last, best hope for all who are called to the cause of freedom, who long for lives of peace, and who yearn for a better future.”
Pidato Obama menggugah hadirin kaum muda yang bangga dengan cara Obama melihat dunia, mereka adalah generasi X yang telah bercampur baur berbagai ras, generasi ipod dan apple, memiliki nilai-nilai abad ke-21 yang inklusif dengan bermacam-macam agama, berbicara berbagai bahasa dan memiliki orientasi seksual yang bebas. Hingga detik ini Obama mampu meraih hati generasi muda dan menimbulkan kebanggaan masyarakat keturunan Afrika-Amerika. Bagaimana dengan perempuan?
Obama sadar bahwa ia harus merebut pendukung Hillary, bukan hanya itu, istrinya pun pemerhati isu perempuan dan ia memiliki dua anak perempuan yang tentu harus menjadi pertimbangannya. Maka di dalam pidatonya tak lupa ia menyebutkan ibunya yang berjuang setiap hari, bekerja keras dan hanya istirahat 3 jam sehari demi memenuhi kebutuhan biaya Obama dan adik perempuannya. Ia tak lupa menceritakan neneknya yang bekerja sebagai sekretaris rendahan yang tak dapat masuk pada level manajemen hanya karena dia perempuan. Ia tak lupa mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada mereka. Ibu Obama telah tiada, meninggal karena kanker dan tanpa jasa neneknya ia tak akan berdiri di atas podium malam ini. Ia berkata lirih:
”She’s the one who taught me about hard work. She’s the one who put off buying a new car or a new dress for herself so that I could have a better life. She poured everything she had into me.”
Obama mengajak para laki-laki muda dan tua serta para suami untuk ikut bertanggung jawab pada ketidakadilan, ikut membangun hidup yang lebih baik bagi perempuan, bagi istri mereka dan bagi anak-anak perempuan mereka. “Now is the time to keep the promise for equal pay of equal day’s of work, because I want my daughters to have the exact same opportunities as your sons.”
Puaskah perempuan Amerika dengan pernyataan Obama ini? Para perempuan yang selama ini ”cool” saja terhadap Obama kini mulai mengembangkan senyum, kini mulai berteriak gembira dan juga menitikkan air mata.
Obama telah berhasil merebut hati perempuan yang menjadi pemilih penting dalam pemilu nanti. Ia pun kelihatan senang dan penutupan Konvensi Partai Demokrat berlangsung sukses dengan kembang api dan pita-pita merah-putih-biru bertebaran di langit. Tanda sukses untuk menang melawan McCain di depan mata, siapa yang akan bisa menyainginya? Ia memiliki karakteristik yang unik; muda usia, ras campur, berasal dari latar belakang sederhana namun berhasil meraih pendidikan tinggi dan sekarang berhasil memenangkan pemilih perempuan serta memiliki calon wakil presiden, Joe Biden, yang berpengalaman, berumur matang dan dekat dengan politik Washington.
Namun tunggu dulu, jangan terlalu cepat senang dulu. Bukanlah politik Amerika bila tak ada drama menegangkan bak di film-film Holywood. Belum sehari kesuksesan Konvensi Partai Demokrat dirayakan oleh media, keesokan harinya McCain mengumumkan calon wakil presidennya. Pengumuman McCain mengagetkan kubu partai Demokrat. Mereka tidak menyangka McCain memilih Sarah Palin, perempuan berumur 44 tahun, gubernur Alaska. Artinya, ia muda namun memiliki pengalaman eksekutif, lebih dari pengalaman Obama yang hanya mengenyam beberapa tahun sebagai senator.

Pengumuman ini menjadi ”headline” di hampir semua stasiun TV. Apalagi mengingat McCain berusia 72 tahun maka penunjukkan Sarah menjadi penting, bisa saja ia menjadi presiden Amerika Serikat. Sekilas tampak penyesalan di kubu Partai Demokrat yang tidak memilih Hillary sebagai kandidat presiden mereka atau wakil presiden untuk Obama. Apalagi Sarah tampil menyakinkan dengan menyebutkan bahwa ia mengikuti jejak Geraldine Ferraro yang menjadi kandidat wakil presiden di tahun 1984 dan Senator Hillary Clinton yang telah membuat sejarah meraih 18 juta pemilih”, Sarah menambahkan dengan berapi-api:
”But it turns out the women of America aren’t finished yet and we can shatter that glass ceiling once and for all.”
Sarah memberi signal bahwa ia siap menjadi harapan perempuan Amerika. Sebuah signal yang diharapkan McCain dapat mengambil simpati pemilih Hillary dan mengantarnya menjadi presiden Amerika. Sarah pun digambarkan sebagai gubernur Alaska yang tegas berhasil memberantas korupsi di daerahnya dan berani mengambil keputusan untuk melakukan pengeboran minyak agar Amerika tidak tergantung lagi dengan negara-negara asing. Ia pun berani menentang politikus-politikus Washington DC.
Foto-foto Sarah di CNN menunjukkan ia paham soal permasalahan perang Irak, ia berfoto dengan para tentara, dan pembahasan Irak bukan saja dalam tingkat wacana baginya, tapi lebih personal dan riil, karena anak laki-lakinya mempertaruhkan nyawanya di Irak sebagai serdadu Amerika Serikat. Sarah pun seorang ibu yang berdedikasi, memiliki 5 anak dengan bayi yang berpenyakit ”down syndrome”.. Namun, ia tetap gigih berkarier dan sukses sekaligus sebagai gubernur dan ibu bagi anak-anaknya.
Sarah memulai karier politiknya secara unik dari peran seorang ibu yang aktif di kegiatan-kegiatan sekolah anak-anaknya. Ia terlibat dalam organisasi orang tua murid, lalu menjadi walikota di kota kecil Wasilla di Alaska dan kemudian merebut kursi gubernur Alaska pada tahun 2006. Latar belakang Sarah tidak berbeda jauh dari Obama, kedua orang tuanya juga berasal dari kalangan sederhana, hanya guru Sekolah Dasar. Bagi McCain inilah yang disebut the American dream, bahwa bukan saja Sarah datang dari keluarga biasa tapi ia seorang ibu rumah tangga yang dapat dengan gigih menjadi orang nomer satu di Alaska.
Hingga saya menulis artikel ini, fenomena Sarah Palin terus dibicarakan dan dibedah oleh media Amerika dan organisasi-organisasi feminis di Amerika. Partai Republik merasa bangga dengan pilihan mereka dan menganggap ini strategi yang cerdas untuk memenangkan pemilu karena akan merebut simpati perempuan.
Benarkah?
Organisai perempuan terbesar Amerika, NOW (National Organization of Women), pada pukul 14.00, tanggal 29 Agustus 2008, segera mengeluarkan pernyataan bahwa tidak semua perempuan berjuang untuk hak-hak perempuan. Perjuangan perempuan harus dibuktikan dengan tindakan dan kerja keras. Calon wakil presiden McCain, Sarah Palin, meskipun seorang perempuan memiliki pandangan konservatif tentang perempuan. Sarah Palin menurut organisasi ini penentang pro choice (hak perempuan untuk memilih tindakan aborsi). Ia sama sekali berbeda dengan Hillary Clinton yang memang terbukti bekerja untuk memajukan perempuan di Amerika dan di sekeliling dunia. Bahkan Senator Joe Biden, calon wakil presiden Obama, juga telah terbukti banyak mendukung gerakan perempuan. Biden adalah orang yang mengoalkan undang-undang kekerasan dalam rumah tangga. NOW mengingatkan bahwa memperjuangkan hak-hak perempuan bukan berarti semata-mata memiliki jenis kelamin perempuan tapi
lebih dari itu, membuktikan secara nyata dukungan dan kerja untuk kemajuan perempuan.
Apakah Sarah Palin telah melakukan hal tersebut? NOW pesimis. Meskipun demikian nyata benar dari hasil polling, pilihan McCain memilih Sarah Palin sebagai calon wakil presiden berjenis kelamin perempuan telah mulai membuahkan hasil yang positif buat McCain.
Wednesday, August 20, 2008
Emansipasi dan perempuan berpoltik itu BEDA!
Dukung mendukung perempuan di dunia politik jangan sekedar melihat lingkup relasi perempuan dan lelaki saja. Terlalu sempit,dan hanya akan menjadi debat kusir padahal solusi sebenarnya adalah bagaimana menjalin komunikasi yang baik di kedua pihak.
Relasi perempuan dan laki-laki akan sangat berbeda jika di bahas dalam konteks politik & demokrasi, dimana banyak kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak di tentukan.
Perempuan di politik sangat penting karena : Bicara demokrasi adalah bicara perwakilan kepentingan. Tak masuknya kepentingan setengah masyarakat (perempuan) menghasilkan kebijakan yang timpang dan ujung-ujungnya tak nyaman bagi kedua pihak (laki-laki dan perempuan).
Banyak contoh kebijakan yang tak mengakomodasi kepentingan perempuan tapi mengorbankan perempuan.
Contoh paling jelas adalah, kebijakan pemaksaan alat kontrasepsi pada perempuan. Ketika sebuah kebijakan mengakibatkan lingkungan hidup rusak, kelompok yang paling rentan adalah perempuan dan anak (lihat saja daftar korban jika terjadi bencana).
Dalam pemberantasan prostitusi yang di razia adalah kaum perempuan (korban) padahal pembelinya adalah kaum laki-laki yang bebas jajan sana-sini.
Perhatikan kejahatan yang bermula dari hasrat seksual tak terkendali milik laki-laki, dalam pemberantasannya justru perempuan yang dianggap biang masalah.
Yang sering diungkit ketika perempuan terjun ke publik adalah :jangan lupa kodrat mengurus rumah tangga.
Lho...siapa yang memisahkan pekerjaan dengan urusan rumah tangga?
bukankan kebijakan laki-laki?.
Pernah melihat ibu tani bekerja di sawah yang masih menggendong anaknya?
Realistis lah. Kita tidak bisa menutup mata, perempuan bekerja sekarang karena tuntutan hidup. Bukan sekedar gengsi wanita karir...tapi banyak yang murni mencari makan, mungkin membantu suami, atau bahkan memberi makan suami dan anaknya (contoh:TKW).
Siapa yang berjuang memperhatikan hak mereka jika perempuan tak terjun ke politik dan memberikan kemudahan dan penghargaan selayaknya bagi kaum perempuan.
Bukankah baik jika perempuan di beri ruang bekerja tetapi tetap terjaga keutuhan keluarga (unsur terkecil negara)?.
Jika perempuan (visioner) semakin banyak di politik,tentu keadaan yang lebih baik bagi perempuan akan lebih mudah terwujud.
Saya setuju dengan pendapat mu bahwa Perempuan memang cenderung plegmatis, memilih diam saat terzholimi. Melihat yang salah tetapi tetap tak berbuat. Mungkin akan banyak perempuan memilih Golput?..Aku tak heran lah.
Saranku...benar-benar buka mata. Lihat nasib kaum perempuan. Benarkah diammu menyelesaikan persoalan?
sebuah pepatah berkata, Berbuatlah!, atau kamu adalah bagian dari persoalan itu sendiri.
-------------------------
balasan kesal di sebuah milist
pena pera
Relasi perempuan dan laki-laki akan sangat berbeda jika di bahas dalam konteks politik & demokrasi, dimana banyak kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak di tentukan.
Perempuan di politik sangat penting karena : Bicara demokrasi adalah bicara perwakilan kepentingan. Tak masuknya kepentingan setengah masyarakat (perempuan) menghasilkan kebijakan yang timpang dan ujung-ujungnya tak nyaman bagi kedua pihak (laki-laki dan perempuan).
Banyak contoh kebijakan yang tak mengakomodasi kepentingan perempuan tapi mengorbankan perempuan.
Contoh paling jelas adalah, kebijakan pemaksaan alat kontrasepsi pada perempuan. Ketika sebuah kebijakan mengakibatkan lingkungan hidup rusak, kelompok yang paling rentan adalah perempuan dan anak (lihat saja daftar korban jika terjadi bencana).
Dalam pemberantasan prostitusi yang di razia adalah kaum perempuan (korban) padahal pembelinya adalah kaum laki-laki yang bebas jajan sana-sini.
Perhatikan kejahatan yang bermula dari hasrat seksual tak terkendali milik laki-laki, dalam pemberantasannya justru perempuan yang dianggap biang masalah.
Yang sering diungkit ketika perempuan terjun ke publik adalah :jangan lupa kodrat mengurus rumah tangga.
Lho...siapa yang memisahkan pekerjaan dengan urusan rumah tangga?
bukankan kebijakan laki-laki?.
Pernah melihat ibu tani bekerja di sawah yang masih menggendong anaknya?
Realistis lah. Kita tidak bisa menutup mata, perempuan bekerja sekarang karena tuntutan hidup. Bukan sekedar gengsi wanita karir...tapi banyak yang murni mencari makan, mungkin membantu suami, atau bahkan memberi makan suami dan anaknya (contoh:TKW).
Siapa yang berjuang memperhatikan hak mereka jika perempuan tak terjun ke politik dan memberikan kemudahan dan penghargaan selayaknya bagi kaum perempuan.
Bukankah baik jika perempuan di beri ruang bekerja tetapi tetap terjaga keutuhan keluarga (unsur terkecil negara)?.
Jika perempuan (visioner) semakin banyak di politik,tentu keadaan yang lebih baik bagi perempuan akan lebih mudah terwujud.
Saya setuju dengan pendapat mu bahwa Perempuan memang cenderung plegmatis, memilih diam saat terzholimi. Melihat yang salah tetapi tetap tak berbuat. Mungkin akan banyak perempuan memilih Golput?..Aku tak heran lah.
Saranku...benar-benar buka mata. Lihat nasib kaum perempuan. Benarkah diammu menyelesaikan persoalan?
sebuah pepatah berkata, Berbuatlah!, atau kamu adalah bagian dari persoalan itu sendiri.
-------------------------
balasan kesal di sebuah milist
pena pera
Wednesday, August 06, 2008
Palembang bergolak sampai ke Medan
Kongres adalah ajang puncak dinamika di HMI. Semua urusan organisasi di godok kembali disini. di review kembali disini.Dan di lahirkan kembali disini. Sebagai pedoman acuan berorganiassi selama dua tahun kedepan.
Tentunya jika pengurus membacanya hasilnya.
Aku tak bicara soal isi AD ART, dan mumetnya sidang-sidang di Kongres.
Meski di disanalah esensi perubahan HMI bermula, tapi pertarungan politik kekuasaan lebih mendominasi.
Sama dengan suasana kongres tersebut, tulisan ku kali ini juga perihal pertarungan politik itu.
Saat kandidat mencoba mengumpulkan suara cabang untuk kemenangannya, sering kali terjadi tawaran money politik.
Saat ini, ke intelektualan, kemampuan menunjukkan komitment kedepan menjadi penerima mandat organisasi, bukanlah alat ukur yang utama.
Yang utama adalah, sejauh mana kandidat memiliki kekuatan dana. Kekuatan dana di peroleh dari,aktor yang memiliki kepentingan terhadap HMI ke depan.
Aktor ini biasanya adalah pejabat/politisi nasional yang ingin menyetir HMI untuk kepentingannya. Ketua umum HMI adalah pionnya dalam politik ke depan.
Cabang yang punya hak untuk memilih sebenarnya tak sangat jarang memiliki kemerdekaan untuk memilih. Ada pengaruh ataupun keterlibatan senior disini. Senior ini adalah penghubung antara cabang dengan sang aktor. Sang aktor entah kelebihan uang,atau memang tak punya akuntan dalam mengucurkan dana, terkadang dana yang dialirkannya untuk kemenangann pionnya bukanlah dana yang benar-benar sampai ke tangan sang pion untuk di gunakannya dalam suksesi pemenangannya.
Dana itu tercegat di kantong senior yang kerjanya mirip seperti broker. ah tak tepat dengan istilah broker, tapi mucikari.
Anehnya, cukup banyak mucikari ini muncul. Setiap kongres, wajahnya itu-itu saja. Bertambah pula dengan senior yang muda dan ingin belajar menjadi mucikari. Mucikari ini hidup dari menjualkan harga diri HMI.
Dia akan mencari cabang-cabang yang rela menjual harga dirinya, dengan tiket pulang pergi dan buah tangan, ataupun posisi kekuasaan yang diinginkannya.
Aku tak akan membahas jika urusannya posisi kekuasaan.Itu hal yang positif ku pikir.
Yang merusak dan menggerogoti mental HMI bertahun-tahun adalah menukarkan idealismenya dengan tiket pergi pulang dan buah tangan.
Satu hal yang tak pernah atau mungkin sengaja tak ingin dipikirkan oleh kader-kader yang menerima tawaran itu adalah SUMBER dana tiket itu dari mana?.
Bisa jadi dana itu bersumber dari Korupnya sang Aktor.
Ok...mungkin itu bukan urusan si penerima. Tapi pikirkanlah kemana seharusnya dana itu mengalir.
Mungkin untuk Pak Tani, yang subsidi pupuknya tiba-tiba hilang dari pasaran. Mungkin untuk masyarakat miskin.
Ketika budaya ini di teruskan oleh anak-anak HMI,sesungguhnya mengambil hak yang bukan haknya selayaknya.
Pergi dan pulang kongres adalah tanggung jawab masing-masing cabang. Bukannya mengharapkan bantuan dari kandidat. Apalagi tugas ketua umum yang terpilih.
soal balas jasa adalah dari perbuatannya ke depan.
Jikalah budaya ini diteruskan, hanyalah memperkuat mental-mental pelacur di organisasi Islam ini. kader-kader yang kemudian mendominasi di bagian manapun di Indonesia. Dari petinggi Negara, sampai pengawai golongan terendah, bahkan tukang becak, HMI ada.
Mungkin mental ini pulalah yang membuat alumni HMI banyak yang korup.
mental ini pulalah yang membuat HMI terpecah-pecah dan tak memberi kontribusi ke negara ini kecuali kelihaian kadernya dalam beretorika.
Palembang 2008, bergolak ke medan dan seantero negeri Indonesia. Akankah perubahan yang lebih baik?.
Harap yang usang, semoga sang aktor dan senior mucikari di tendang dari HMI.
Selamat bagi Arif & Sisin!
Tentunya jika pengurus membacanya hasilnya.
Aku tak bicara soal isi AD ART, dan mumetnya sidang-sidang di Kongres.
Meski di disanalah esensi perubahan HMI bermula, tapi pertarungan politik kekuasaan lebih mendominasi.
Sama dengan suasana kongres tersebut, tulisan ku kali ini juga perihal pertarungan politik itu.
Saat kandidat mencoba mengumpulkan suara cabang untuk kemenangannya, sering kali terjadi tawaran money politik.
Saat ini, ke intelektualan, kemampuan menunjukkan komitment kedepan menjadi penerima mandat organisasi, bukanlah alat ukur yang utama.
Yang utama adalah, sejauh mana kandidat memiliki kekuatan dana. Kekuatan dana di peroleh dari,aktor yang memiliki kepentingan terhadap HMI ke depan.
Aktor ini biasanya adalah pejabat/politisi nasional yang ingin menyetir HMI untuk kepentingannya. Ketua umum HMI adalah pionnya dalam politik ke depan.
Cabang yang punya hak untuk memilih sebenarnya tak sangat jarang memiliki kemerdekaan untuk memilih. Ada pengaruh ataupun keterlibatan senior disini. Senior ini adalah penghubung antara cabang dengan sang aktor. Sang aktor entah kelebihan uang,atau memang tak punya akuntan dalam mengucurkan dana, terkadang dana yang dialirkannya untuk kemenangann pionnya bukanlah dana yang benar-benar sampai ke tangan sang pion untuk di gunakannya dalam suksesi pemenangannya.
Dana itu tercegat di kantong senior yang kerjanya mirip seperti broker. ah tak tepat dengan istilah broker, tapi mucikari.
Anehnya, cukup banyak mucikari ini muncul. Setiap kongres, wajahnya itu-itu saja. Bertambah pula dengan senior yang muda dan ingin belajar menjadi mucikari. Mucikari ini hidup dari menjualkan harga diri HMI.
Dia akan mencari cabang-cabang yang rela menjual harga dirinya, dengan tiket pulang pergi dan buah tangan, ataupun posisi kekuasaan yang diinginkannya.
Aku tak akan membahas jika urusannya posisi kekuasaan.Itu hal yang positif ku pikir.
Yang merusak dan menggerogoti mental HMI bertahun-tahun adalah menukarkan idealismenya dengan tiket pergi pulang dan buah tangan.
Satu hal yang tak pernah atau mungkin sengaja tak ingin dipikirkan oleh kader-kader yang menerima tawaran itu adalah SUMBER dana tiket itu dari mana?.
Bisa jadi dana itu bersumber dari Korupnya sang Aktor.
Ok...mungkin itu bukan urusan si penerima. Tapi pikirkanlah kemana seharusnya dana itu mengalir.
Mungkin untuk Pak Tani, yang subsidi pupuknya tiba-tiba hilang dari pasaran. Mungkin untuk masyarakat miskin.
Ketika budaya ini di teruskan oleh anak-anak HMI,sesungguhnya mengambil hak yang bukan haknya selayaknya.
Pergi dan pulang kongres adalah tanggung jawab masing-masing cabang. Bukannya mengharapkan bantuan dari kandidat. Apalagi tugas ketua umum yang terpilih.
soal balas jasa adalah dari perbuatannya ke depan.
Jikalah budaya ini diteruskan, hanyalah memperkuat mental-mental pelacur di organisasi Islam ini. kader-kader yang kemudian mendominasi di bagian manapun di Indonesia. Dari petinggi Negara, sampai pengawai golongan terendah, bahkan tukang becak, HMI ada.
Mungkin mental ini pulalah yang membuat alumni HMI banyak yang korup.
mental ini pulalah yang membuat HMI terpecah-pecah dan tak memberi kontribusi ke negara ini kecuali kelihaian kadernya dalam beretorika.
Palembang 2008, bergolak ke medan dan seantero negeri Indonesia. Akankah perubahan yang lebih baik?.
Harap yang usang, semoga sang aktor dan senior mucikari di tendang dari HMI.
Selamat bagi Arif & Sisin!
Tuesday, June 03, 2008
Kohati HMI cabang Langkat, buah hati yang tak bisa terlupa
Namanya juga buah hati. Sama artinya dengan kesayangan. Bagaimana mungkin aku lupa kan.
Kohati HMI cabang Langkat sejak lahirnya, kuanggap simbol kesuksesanku sebagai ketua umum KOHATI Badko .
Di tahun pertama berdiri, mereka giat melakukan usulku untuk segera melaksanakan LKK. Perjuangan yang cukup alot mereka alami meski aku tetap mengawal mereka agar kegiatan itu tercapai. Adalah ambisi pribadiku menjadi saat jadi ketua umum dulu agar terlaksana LKK di luar cabang Medan. LKK dianggap kegiatan yang sulit dilakukan dan tidak penting dilaksanakan di HMI cabang daerah. Padahal aku merasa betul, kondisi perkaderanlah yang menjadi salah satu pengganjal berdayanya kohati di daerah diluar Medan. Bayangkan, dimasa awal aku menjadi ketua, hanya Cabang Medan yang ketua umumnya telah mengecap LKK.
Nah ternyata Langkat menyanggupi untuk melaksanakan kegiatan yang dianggap sulit dan tak penting ini justru di awal mereka berdiri, dengan komitment kader yang masih terseok-seok dan nyinyir khasnya HMI-wan yang tak kutemukan di cabang lain.
(istilahnya : bagai cengkok melayu)
Disadari atau tidak, kegiatan LKK tersebut lah yang membuat Bupati melirik kegiatan HMI di cabang Langkat. Sebelumnya HMI nyaris tidak dianggap ada di tanah langkat.
Dan 3 periode setelah berdiri, Hari Senin, 2 Juni 2008 yang lalu, aku hadir kembali ke langkat. Menjadi Moderator di seminar Pendidikan Politik Perempuan yang terbilang sukses. Sukses karena target 200 peserta ternyata membludak menjadi 400 peserta.
Masih banyak yang belum melupakanku sebagai pengasuh KOHATI cabang ini. Bahkan Syamsul Arifin sang Bupati sekaligus Gubernur Sumut terpilih pun masih menyapaku.
Hari itu menjadi penuh dengan nostalgia perjuangan membangun Kohati langkat 3 tahun yang lalu.
Mengingat Leli sang ketua umum kohati saat ini, dulunya adalah sosok yang rendah diri dan sulit berbicara di depan publik, kini begitu lugas berpidato dan melobi sana sini.
Mengingat jalan Medan-langkat yang kutempuh dengan sepeda motor selama 1 jam, lewati panas dan hujan. Bahkan pernah kutempuhi meskipun aku masih belum sembuh total dari kecelakaan.
Sangkin bangganya aku pada cabang ini, dalam debat kandidatku sebagai Ketua Umum KOHATI PB, cabang langkatlah yang paling ku elu-elukan sebagai cabang yang berprestasi.
Imar, Pita para ketua umum kohati cabang Medan pernah cemburu karena perhatianku pada cabang langkat. Niar sang Ketua Umum KOHATI badko periode ini pun demikian. Ah..dinda, kalian tidak tahu betapa lekatnya aku dengan cabang Langkat ini. Jika analoginya ibu dan anak, mereka adalah anak-anakku dan anak yang berbakti dan baik pula. Ibu mana yang rela melepas kasih sayang nya?.
Kubuka amplop putih yang diselipkan paksa oleh adik-adik sebelum ku pulang. Jumlahnya sama dengan uang yang kupinjamkan pada mereka tiga tahun yang lalu untuk modal awal kepanitian LKK. Pinjaman itu telah lama kuanggap hangus dan tak perlu di kembalikan. Dan amplop ini mengingatkan ku kembali. Duh...jadi terharu. Besok lembaran ini kugantikan saja dengan buku. Prestasi kalian di kepengurusan melebihi segalanya bagiku.
Terus lah Jaya Kohati HMI cabang Langkat.
Kohati HMI cabang Langkat sejak lahirnya, kuanggap simbol kesuksesanku sebagai ketua umum KOHATI Badko .
Di tahun pertama berdiri, mereka giat melakukan usulku untuk segera melaksanakan LKK. Perjuangan yang cukup alot mereka alami meski aku tetap mengawal mereka agar kegiatan itu tercapai. Adalah ambisi pribadiku menjadi saat jadi ketua umum dulu agar terlaksana LKK di luar cabang Medan. LKK dianggap kegiatan yang sulit dilakukan dan tidak penting dilaksanakan di HMI cabang daerah. Padahal aku merasa betul, kondisi perkaderanlah yang menjadi salah satu pengganjal berdayanya kohati di daerah diluar Medan. Bayangkan, dimasa awal aku menjadi ketua, hanya Cabang Medan yang ketua umumnya telah mengecap LKK.
Nah ternyata Langkat menyanggupi untuk melaksanakan kegiatan yang dianggap sulit dan tak penting ini justru di awal mereka berdiri, dengan komitment kader yang masih terseok-seok dan nyinyir khasnya HMI-wan yang tak kutemukan di cabang lain.
(istilahnya : bagai cengkok melayu)
Disadari atau tidak, kegiatan LKK tersebut lah yang membuat Bupati melirik kegiatan HMI di cabang Langkat. Sebelumnya HMI nyaris tidak dianggap ada di tanah langkat.
Dan 3 periode setelah berdiri, Hari Senin, 2 Juni 2008 yang lalu, aku hadir kembali ke langkat. Menjadi Moderator di seminar Pendidikan Politik Perempuan yang terbilang sukses. Sukses karena target 200 peserta ternyata membludak menjadi 400 peserta.
Masih banyak yang belum melupakanku sebagai pengasuh KOHATI cabang ini. Bahkan Syamsul Arifin sang Bupati sekaligus Gubernur Sumut terpilih pun masih menyapaku.
Hari itu menjadi penuh dengan nostalgia perjuangan membangun Kohati langkat 3 tahun yang lalu.
Mengingat Leli sang ketua umum kohati saat ini, dulunya adalah sosok yang rendah diri dan sulit berbicara di depan publik, kini begitu lugas berpidato dan melobi sana sini.
Mengingat jalan Medan-langkat yang kutempuh dengan sepeda motor selama 1 jam, lewati panas dan hujan. Bahkan pernah kutempuhi meskipun aku masih belum sembuh total dari kecelakaan.
Sangkin bangganya aku pada cabang ini, dalam debat kandidatku sebagai Ketua Umum KOHATI PB, cabang langkatlah yang paling ku elu-elukan sebagai cabang yang berprestasi.
Imar, Pita para ketua umum kohati cabang Medan pernah cemburu karena perhatianku pada cabang langkat. Niar sang Ketua Umum KOHATI badko periode ini pun demikian. Ah..dinda, kalian tidak tahu betapa lekatnya aku dengan cabang Langkat ini. Jika analoginya ibu dan anak, mereka adalah anak-anakku dan anak yang berbakti dan baik pula. Ibu mana yang rela melepas kasih sayang nya?.
Kubuka amplop putih yang diselipkan paksa oleh adik-adik sebelum ku pulang. Jumlahnya sama dengan uang yang kupinjamkan pada mereka tiga tahun yang lalu untuk modal awal kepanitian LKK. Pinjaman itu telah lama kuanggap hangus dan tak perlu di kembalikan. Dan amplop ini mengingatkan ku kembali. Duh...jadi terharu. Besok lembaran ini kugantikan saja dengan buku. Prestasi kalian di kepengurusan melebihi segalanya bagiku.
Terus lah Jaya Kohati HMI cabang Langkat.
Saturday, May 17, 2008
Aktivis dan prestasi akademik
Kutipan komentarku di sebuah Milist.
Pera bilang :
Pada dasarnya setuju sih..
aktivis yes!...prestasi akademik yes!
ada kok yang bisa kedua-duanya...
ada juga yang kebablasan prestasi akademik, karena idealisme aktifisnya.
prinsipnya, yang namanya aktifis itu, punya aktivitas yang lebih dari yang biasanya, dan aktivitasnya dilandasi idealisme berbuat untuk orang banyak.
tapi perlu juga di tambahi nih...
sistem pendidikan juga mengarah untuk memberantas aktifis mahasiswa.
contoh, perkuliahan yang di persingkat, sitem DO yang semakin ketat, Mahasiswa di buat sesibuk-sibuknya dengan kuliahnya tanpa sempat berorganisasi.
Buku-buku kritis yang mendukung sulit di dapat (ini sih dari dulu, sekarang cukup mendingan lah).
Belum lagi ada juga upaya di balik layar untuk memberi label jelek pada aktivis...contoh, aksi mahasiswa yang di boncengi perusuh.
--- In penulislepas@yahoogroups.com, INDRA QONYEK wrote:
>
> yang nulis nich pernah jadi aktivis ga? atau cuma observasi kosong tnapa makna?
>
> "m@uL" wrote: Aktifis dan Prestasi Akademik
> Sering kali kita mendengar seorang aktifis, baik pelajar yang aktif di sekolah maupun mahasiswa yang aktif di kampus, mengalami penurunan prestasi akademik di tempat belajarnya. Bahkan, untuk mahasiswa yang menjadi aktifis di kampus terkadang mengenyam bangku kuliahnya lebih lama dari masa studi pada umumnya. Apakah gejala ini memberikan ilustrasi bahwa kesibukan beraktifitas dan prestasi akademik itu berbanding terbalik? Mari sedikit kita selami.
>
> Secara logika, mereka yang bergelut sebagai aktifis mempunyai “beban kerja” atas kegiatan2 yang digelutinya, sehingga baik secara langsung maupun tidak langsung, kegiatan tersebut mengurangi masa senggang dan masa aktif mereka untuk kegiatan belajar. Tidak hanya waktu, biaya, tenaga, tetapi juga pikiran mereka ikut terkuras atas kegiatan2 yang dilakukannya. Mungkin ini alasan klasik tapi secara realitas berkata demikian.
>
> Pada intinya, fokus antara kegiatan belajar dan kegiatan di luar belajar mereka terpecah. Mungkin hal yang menjadi point bagi mereka adalah manajemen waktu dan prioritas. Namun hal ini juga tidaklah mudah, sebab ada kalanya seorang aktifis pun memprioritaskan kegiatan di luar belajar mereka, meski pilihan ini menurut saya pribadi kurang etis karena kedudukannya sebagai penuntut ilmu. Semuanya berpulang kepada kepentingan mereka masing2. Setiap pilihan, ada resiko.
>
> Yang jelas, nilai positif yang sungguh luar biasa akan diraih tatkala seorang pelajar atau mahasiswa bisa menggabungkan aktifitas mereka dengan prestasi akademik. Meski ini bukan jaminan akan keberhasilan, namun keduanya sangat perlu. Kalau pun tidak bisa dua-duanya, maka pilihan harus diprioritaskan pada akademik karena ber-organisasi terkadang bisa di-adaptasikan seiring berjalannya waktu.
>
> Apakah prestasi akademik pasti menjamin? Tidak juga, namun tentu saja kalau dihadapkan pada pilihan, apakah berprestasi secara organisasi tetapi prestasi akademiknya jeblok atau berprestasi secara akademik namun prestasi olahraga 0 (nol) besar?. Maka tentu sebagai seorang penuntut ilmu, kiranya sangat tepat jika memilih point kedua, yaitu berprestasi secara akademik. Mengapa? Ya karena dalam tataran awal, berorganisasi atau kegiatan di luar belajarnya itu sifatnya hanya bagian pelengkap atau pembangun dari kegiatan belajar, sekaligus sebagai wadah penyaluran hobi atau minat.
>
> Tapi kalau bisa dilakukan kedua2nya, mengapa tidak? Tidak sedikit tokoh2 di negeri ini yang tumbuh dan besar karena aktifitas mereka yang supersibuk di saat studi dan juga dibarengi prestasi akademik yang “hebat”.
>
> Jadi, “Aktifis Yes, Prestasi Akademik Yes”
>
> Salam,
> M@uL
> http://gus-maul.blogspot.com
Pera bilang :
Pada dasarnya setuju sih..
aktivis yes!...prestasi akademik yes!
ada kok yang bisa kedua-duanya...
ada juga yang kebablasan prestasi akademik, karena idealisme aktifisnya.
prinsipnya, yang namanya aktifis itu, punya aktivitas yang lebih dari yang biasanya, dan aktivitasnya dilandasi idealisme berbuat untuk orang banyak.
tapi perlu juga di tambahi nih...
sistem pendidikan juga mengarah untuk memberantas aktifis mahasiswa.
contoh, perkuliahan yang di persingkat, sitem DO yang semakin ketat, Mahasiswa di buat sesibuk-sibuknya dengan kuliahnya tanpa sempat berorganisasi.
Buku-buku kritis yang mendukung sulit di dapat (ini sih dari dulu, sekarang cukup mendingan lah).
Belum lagi ada juga upaya di balik layar untuk memberi label jelek pada aktivis...contoh, aksi mahasiswa yang di boncengi perusuh.
--- In penulislepas@yahoogroups.com, INDRA QONYEK
>
> yang nulis nich pernah jadi aktivis ga? atau cuma observasi kosong tnapa makna?
>
> "m@uL"
> Sering kali kita mendengar seorang aktifis, baik pelajar yang aktif di sekolah maupun mahasiswa yang aktif di kampus, mengalami penurunan prestasi akademik di tempat belajarnya. Bahkan, untuk mahasiswa yang menjadi aktifis di kampus terkadang mengenyam bangku kuliahnya lebih lama dari masa studi pada umumnya. Apakah gejala ini memberikan ilustrasi bahwa kesibukan beraktifitas dan prestasi akademik itu berbanding terbalik? Mari sedikit kita selami.
>
> Secara logika, mereka yang bergelut sebagai aktifis mempunyai “beban kerja” atas kegiatan2 yang digelutinya, sehingga baik secara langsung maupun tidak langsung, kegiatan tersebut mengurangi masa senggang dan masa aktif mereka untuk kegiatan belajar. Tidak hanya waktu, biaya, tenaga, tetapi juga pikiran mereka ikut terkuras atas kegiatan2 yang dilakukannya. Mungkin ini alasan klasik tapi secara realitas berkata demikian.
>
> Pada intinya, fokus antara kegiatan belajar dan kegiatan di luar belajar mereka terpecah. Mungkin hal yang menjadi point bagi mereka adalah manajemen waktu dan prioritas. Namun hal ini juga tidaklah mudah, sebab ada kalanya seorang aktifis pun memprioritaskan kegiatan di luar belajar mereka, meski pilihan ini menurut saya pribadi kurang etis karena kedudukannya sebagai penuntut ilmu. Semuanya berpulang kepada kepentingan mereka masing2. Setiap pilihan, ada resiko.
>
> Yang jelas, nilai positif yang sungguh luar biasa akan diraih tatkala seorang pelajar atau mahasiswa bisa menggabungkan aktifitas mereka dengan prestasi akademik. Meski ini bukan jaminan akan keberhasilan, namun keduanya sangat perlu. Kalau pun tidak bisa dua-duanya, maka pilihan harus diprioritaskan pada akademik karena ber-organisasi terkadang bisa di-adaptasikan seiring berjalannya waktu.
>
> Apakah prestasi akademik pasti menjamin? Tidak juga, namun tentu saja kalau dihadapkan pada pilihan, apakah berprestasi secara organisasi tetapi prestasi akademiknya jeblok atau berprestasi secara akademik namun prestasi olahraga 0 (nol) besar?. Maka tentu sebagai seorang penuntut ilmu, kiranya sangat tepat jika memilih point kedua, yaitu berprestasi secara akademik. Mengapa? Ya karena dalam tataran awal, berorganisasi atau kegiatan di luar belajarnya itu sifatnya hanya bagian pelengkap atau pembangun dari kegiatan belajar, sekaligus sebagai wadah penyaluran hobi atau minat.
>
> Tapi kalau bisa dilakukan kedua2nya, mengapa tidak? Tidak sedikit tokoh2 di negeri ini yang tumbuh dan besar karena aktifitas mereka yang supersibuk di saat studi dan juga dibarengi prestasi akademik yang “hebat”.
>
> Jadi, “Aktifis Yes, Prestasi Akademik Yes”
>
> Salam,
> M@uL
> http://gus-maul.blogspot.com
Sunday, May 11, 2008
Pembelajaran dari Aksi Fitna HMI
Suatu hari aku sempatkan menjenguk Yusuf Dkk. Ketua Umum badko HMI Sumut beserta beberapa pengurus dan adik-adik komisariat yang ditahan karena berlaku anarkis saat aksi memprotes film Fitna di Konjen Belanda.
Yusuf mengeluh, betapa sulitnya mengontrol para peserta aksi dalam aksi Fitna di Konjen Belanda. Dan, mereka yang anarkis adalah orang-orang yang dikenal Yusuf sebagai kader HMI. Tak habis pikir, aku bertanya ke Yusuf kenapa bisa sampai chaos begitu. Yusuf dengan gaya nya yang khas, tetap tertawa sesusah apapun, menjawab, Aksi kita tidak menarik perhatian Kak, jadi cara teman-teman seperti itu. Anarkis.
Aku cuma komentar dalam hati, tak tega meyakinkan Yusuf, karena bagaimanapun, menurutku, aksinya tetaplah salah. kenapa?
1. Terlalu naif mengandalkan keamanan aksi kepada pihak Kepolisian. Meski hal tersebut adalah tanggung jawab mereka,
Hey...sadar gak sih, ini Indonesia, abdi negaranya tak punya inisiatif untuk bekerja dengan prestasi, yang penting gaji bulanan tetap lancar. Menjaga aksi tetap aman, atau membiarkan rusuh, tidak akan mempengaruhi jumlah gaji mereka yang di terima bulan ini.
2. Aksinya memang salah alamat
3. Lebih salah alamat lagi, aksi dengan anarkis.
Jelas-jelas film Fitna, bukanlah keluaran negeri Belanda, tapi oknum yang kebetulan warga negara Belan. Lagi pula, negara tersebut, secara resmi, menolak pembuatan film tersebut. Hal yang membuat wilder gusar dan kemudian meng-uploadnya di internet.
Pelajaran penting yang harus di petik HMI dari kasus ini, agar jangan SEKEDAR bicara solidaritas sesama kader, hingga seluruh cabang di Indonesia diminta aksi bersama untuk memperjuangkan nasib Yusuf Dkk, dan Ketua Umum PB HMI yang flamboyan itu, mondar-mandir ke setiap elemen untuk membantu selamatnya Kader tersebut.
Bidang-bidang eksternal HMI harus menyusun format Aksi HMI.
Sebuah gaya, ciri khas HMI dalam melakukan Aksi turun ke jalan. Aksi yang beda dengan aksi buruh, tukang becak, apalagi aksi premanisme. Aksi yang mencerminkan unsur-unsur yang ada dalam HMI, yaitu : Keintelektualan, ke-Islamannya dan ke-Indonesian/nasionalisme.
Aku melihat ada kecenderungan atau sebuah steorotip yang terbentuk di dalam kader bahwa dalam aksi harus ada anarki. Dan sah-sah saja terjadi jika aksi yang dilakukan tidak di tanggapi oleh berbagai elemen yang terkait. Kecenderungan ini tak mengherankan jika kita melihat sejarah aksi mahasiswa yang membuahkan hasil seperti contoh yang terdekat, turunnya Soeharto pada dahun 1998. Aksi biasanya justru membuahkan hasil ketika terjadi chaos. Hal ini karena perhatian dan empati masyarakat tertuju pada aksi mereka. Dan itulah sebenarnya target dari sebuah aksi, dimana publik ambil peduli terhadap kondisi yang ada.
Bisakah membangkitkan empati dan kepedulian masyarakat tanpa chaos, tanpa darah yang tumpah, tanpa kehilangan kebebasan?
ini tantangan untuk HMI.
Format Aksi yang ditanamkan melalui sistem perkaderan HMI, sehingga ketika ada aksi yang sangat dadakan sekalipun, kader HMI tetap lah kader yang menunjukkan ciri khasnya dalam berjuang. Terutama menjadi Kader yang mampu mengendalikan dirinya agar tidak anarkis.
Semoga, kasus ini benar-benar menjadi pelajaran untuk perbaikan di HMI.
Semoga Yusuf dkk. segera lepas dari status tahanannya.
Yusuf mengeluh, betapa sulitnya mengontrol para peserta aksi dalam aksi Fitna di Konjen Belanda. Dan, mereka yang anarkis adalah orang-orang yang dikenal Yusuf sebagai kader HMI. Tak habis pikir, aku bertanya ke Yusuf kenapa bisa sampai chaos begitu. Yusuf dengan gaya nya yang khas, tetap tertawa sesusah apapun, menjawab, Aksi kita tidak menarik perhatian Kak, jadi cara teman-teman seperti itu. Anarkis.
Aku cuma komentar dalam hati, tak tega meyakinkan Yusuf, karena bagaimanapun, menurutku, aksinya tetaplah salah. kenapa?
1. Terlalu naif mengandalkan keamanan aksi kepada pihak Kepolisian. Meski hal tersebut adalah tanggung jawab mereka,
Hey...sadar gak sih, ini Indonesia, abdi negaranya tak punya inisiatif untuk bekerja dengan prestasi, yang penting gaji bulanan tetap lancar. Menjaga aksi tetap aman, atau membiarkan rusuh, tidak akan mempengaruhi jumlah gaji mereka yang di terima bulan ini.
2. Aksinya memang salah alamat
3. Lebih salah alamat lagi, aksi dengan anarkis.
Jelas-jelas film Fitna, bukanlah keluaran negeri Belanda, tapi oknum yang kebetulan warga negara Belan. Lagi pula, negara tersebut, secara resmi, menolak pembuatan film tersebut. Hal yang membuat wilder gusar dan kemudian meng-uploadnya di internet.
Pelajaran penting yang harus di petik HMI dari kasus ini, agar jangan SEKEDAR bicara solidaritas sesama kader, hingga seluruh cabang di Indonesia diminta aksi bersama untuk memperjuangkan nasib Yusuf Dkk, dan Ketua Umum PB HMI yang flamboyan itu, mondar-mandir ke setiap elemen untuk membantu selamatnya Kader tersebut.
Bidang-bidang eksternal HMI harus menyusun format Aksi HMI.
Sebuah gaya, ciri khas HMI dalam melakukan Aksi turun ke jalan. Aksi yang beda dengan aksi buruh, tukang becak, apalagi aksi premanisme. Aksi yang mencerminkan unsur-unsur yang ada dalam HMI, yaitu : Keintelektualan, ke-Islamannya dan ke-Indonesian/nasionalisme.
Aku melihat ada kecenderungan atau sebuah steorotip yang terbentuk di dalam kader bahwa dalam aksi harus ada anarki. Dan sah-sah saja terjadi jika aksi yang dilakukan tidak di tanggapi oleh berbagai elemen yang terkait. Kecenderungan ini tak mengherankan jika kita melihat sejarah aksi mahasiswa yang membuahkan hasil seperti contoh yang terdekat, turunnya Soeharto pada dahun 1998. Aksi biasanya justru membuahkan hasil ketika terjadi chaos. Hal ini karena perhatian dan empati masyarakat tertuju pada aksi mereka. Dan itulah sebenarnya target dari sebuah aksi, dimana publik ambil peduli terhadap kondisi yang ada.
Bisakah membangkitkan empati dan kepedulian masyarakat tanpa chaos, tanpa darah yang tumpah, tanpa kehilangan kebebasan?
ini tantangan untuk HMI.
Format Aksi yang ditanamkan melalui sistem perkaderan HMI, sehingga ketika ada aksi yang sangat dadakan sekalipun, kader HMI tetap lah kader yang menunjukkan ciri khasnya dalam berjuang. Terutama menjadi Kader yang mampu mengendalikan dirinya agar tidak anarkis.
Semoga, kasus ini benar-benar menjadi pelajaran untuk perbaikan di HMI.
Semoga Yusuf dkk. segera lepas dari status tahanannya.
Saturday, April 12, 2008
Sekretariat HMI, sejarah yang ringkih
Ditengah kesibukanku mempersiapkan Interview peserta Pelatihan Politik Kohati Badko, akhir maret yang lalu, Adik-adik kohati badko memamerkan foto sebuah gedung putih nan megah. Beberapa tampang pengurus Badko HMI Sumut, pamer gigi diantaranya.
"ini sekretariat HMI cabang Padang Kak...keren yah..."
"o ya?...hebat juga ya?, bantuan siapa tuh?". Aku jadi ingat sebelum masuk kesekretariat tadi, aku melewati lubang besar bekas peresmian peletakan batu pertama pembangunan sekretariat.
"Yah sama lah dengan kita ni kak, Bang Bachtiar Hamsyah dan KAHMI Sumbar-nya".
"Wah Sumut ketinggalan dunk ya?, blom dibangun-bangun juga" timpalku.
"Ah gak juga Kak, mereka ini peresmiannya aja sampai 3 kali, kita aja baru satu kali, jadi wajar dunk masih gali pondasi doank". Niar, nyelutuk tapi terkesan menyindir para pemberi bantuan.
Aku mangut-mangut saja....
Sekretariat HMI, seperti jantung aktifitas kader. Hampir seluruh konsep perubahan HMI berawal dari ruang-ruangnya. Tempat belajar dari subuh ke subuh. Tempat mengabdi. Tempat berteduh, selain rumah yang kadang tak seide.
Sekretariat adalah saksi bisu perjalanan sejarah HMI. Tempat banyak orang-orang yang sekarang berjas dan berdasi, pernah tidur di selembar karpet atau pun koran, ditemani nyamuk dan kecoa.
Sekretariat perlahan-lahan beranjak berdandan lebih apik, atau pun berganti-ganti tempat, jika pengurus tak mampu merogoh kocek untuk mencari sekretariat tetap.
Ah....jadi teringat waktu aku berkunjung ke HMI cabang Padang. Tahun 2003, aku Latihan Kader III Badko HMI padang. Usai pelatihan singgah sebentar ke sekretariat HMI cabang Padang.
Saat itu bangunannya jauh dari kemegahan bangunan di foto itu. Sebuah rumah berwarna hijau, beratap genteng, dari jauh saja terlihat ringkih. Pertama kali melihatnya, aku bisa menebak bangunan ini sudah berdiri sejak jaman kemerdekaan.
Oya..saat itu tepat sedang berlangsung Latihan Kader I, aku melihat mereka menggunakan kursi besi...besi tempa. wah...tahan banting benar. Cerdas juga yang membeli kursi itu, sehingga lebih awet dibanding kursi stainless yang sering di pakai di kondangan. ya...memang kurang nyaman lah...tapi cukup menghemat kantong mahasiswa, daripada harus membeli setiap periodesasi baru.
Ternyata Sekretariat itu adalah bangunan sejarah. Konon adalah bekas markas PKI.Setelah PKI diberangus, asetnya di gunakan oleh HMI. Banyak sekretariat HMI cabang lainnya adalah bekas bangunan-bangunan seperti itu.
HMI cabang Surakarta, tak jauh berbeda tampilan bangunannya dengan Sekretariat HMI cabang Padang. Renta, tapi di dalamnya sejuk dan ramah. Ada peraturan saat aku berkunjung itu, ketua umum harus tinggal di sekretariat. Kebetulan ketua umumnya saat itu perempuan. Saat aku berkunjung kesana juga di tahun 2003, rasanya nyaman sekali. Banyak pohon yang rindang. Halamannya juga tempat parkir tukang becak. sayang ku tak sempat menginap barang semalam di rumah tua itu.
Sekretariat HMI cabang Bandung, juga punya sejarah sendiri. Bangunan Belanda juga, dan besar euy...Memiliki 2 ruangan pelatihan. Sewaktu menapaki gedung itu, aku membayangkan Akbar Tanjung dulu juga bergelut peluh di gedung ini.
Kembali ke Sumatera Barat, di Bukittinggi, sekertariatnya, rumah panggung peninggalan Belanda. Tak jauh dari STAI. Lantai rumahnya dari bambu dan sudah bolong-bolong pula. kalau tidak hati-hati, bisa terperosok ke kolong rumah. Tak ada kamar mandi. Anak HMI selalu ke kampus untuk menumpang mandi. Untungnya aku nginap di rumah teman, waktu berkunjung ke Bukittinggi. Jika tidak, pusing juga kalau kebelet tengah malam.
Sekretariat HMI yang juga bersejarah adalah HMI cabang Pematang Siantar di Sumatera Utara. Para alumni HMI yang duduk di MUI, menyediakan ruangan khusus di gedung MUI untuk jadi sekretariat HMI. Letaknya strategis di jantung kota. Masa reformasi tahun 1998, sekretariat ini posko pelarian mahasiswa dari medan yang di kejar-kejar militer. Sekretariat ini salah satu sekretariat yang selalu ramai penghuninya selama 24 jam setelah HMI cabang Medan pada masa itu. Sayangnya, pertarungan politik di HMI juga arogansi alumni, entah bagaimana, mendepak kader HMI dari gedung apik itu. Mereka lalu hengkang ke sebuah panti asuhan di perbatasan kota Siantar. Hidup bersama anak-anak panti. Sambil mengajar anak-anak panti asuhan, mereka sekali-kali meminjam ruang untuk pelatihan. Aku ingat sekali, tak ada WC di Panti asuhan itu. Jika ingin BAB cuma ada sungai kecil di belakangnya. Kebayangkan susahnya kalau menginap disana?. Apalagi Perempuan.
Nah..akhirnya kembali ke HMI cabang Medan. Konon tempat gedung sekretariat ini sekarang berdiri adalah bekas perkuburan Cina. Saat itu, terjadi konflik persoalan tanah, dan HMI salah satunya terlibat di dalamnya. Setelah konflik usai, sebagai ucapan terimakasih, HMI di berikan sepetak tanah, untuk sekretariatnya. Sedikit demi sedikit di bangun. Karena bekas kuburan, masih ada lho mahluk halus yang sekali-kali mengganggu. Namanya melanie....
Dibalik sekretariat tersebut adalah pemukiman yang terkesan kumuh. Masa ku jadi pengurus dulu, mereka selalu di libatkan dalam kegiatan HMI. Jika ada bagi-bagi sembako, Kurban, acara sosial, membuka perpustakaan anak, dll, mereka lah yang kebagian lebih dulu. Masa itu sangat harmonis antara HMI dan penduduk sekitarnya. Kadang malah sekretariat itu di sapu oleh Emak,yang menumpang jualan di pinggir sekretariat kami. Parkirannya, sampai sekarang di pakai pengguna sepeda motor, yang mengurus STNK di Poltabes, sebelah Sekretariat kami.
Apakah keharmonisan itu akan berakhir?
Sebentar lagi, pelan-pelan HMI cabang Medan akan menjulang 3 lantai. Dengan lengkung arcade yang anggun,seperti tampaknya mesjid kebanyakan. Ada juga teras berkanopi, tempat tamu bermobil bisa turun tanpa kehujanan, khas ala bangunan kolonial jaman belanda. Warung Emak, di sisa lahan sekretariat itu akan di gusur. Diganti parkiran mobil para KAHMI yang juga menapakkan sekretariatnya di sekretariat HMI.
Sekarang, HMI cabang Padang sudah berdiri bangunan baru. Tak terlihat sedikitpun bangunan hijau yang tua renta itu. Yang ada bangunan putih dengan pilar besar, seolah meniru gaya romawi. Menjulang 2 lantai, mencolok diantara bangunan sekitarnya yang masih berdinding papan dan atap seng yang sudah berwarna coklat.
Pertanyaan dalam benakku..
1. Akankah adik-adik HMI selanjutnya mengingat, rumah-rumah ringkih itu?
2. Akankah bangunan megah itu membuat mereka lupa pada rumah papan beralas tanah, dan lantai rumah yang berlubang-lubang?
entah kenapa aku pesimis...
tapi ku tetap berdoa...dan berdoa...
semoga darah hijau hitam itu tetap bergolak pada penindasan rakyat. Lawan!
"ini sekretariat HMI cabang Padang Kak...keren yah..."
"o ya?...hebat juga ya?, bantuan siapa tuh?". Aku jadi ingat sebelum masuk kesekretariat tadi, aku melewati lubang besar bekas peresmian peletakan batu pertama pembangunan sekretariat.
"Yah sama lah dengan kita ni kak, Bang Bachtiar Hamsyah dan KAHMI Sumbar-nya".
"Wah Sumut ketinggalan dunk ya?, blom dibangun-bangun juga" timpalku.
"Ah gak juga Kak, mereka ini peresmiannya aja sampai 3 kali, kita aja baru satu kali, jadi wajar dunk masih gali pondasi doank". Niar, nyelutuk tapi terkesan menyindir para pemberi bantuan.
Aku mangut-mangut saja....
Sekretariat HMI, seperti jantung aktifitas kader. Hampir seluruh konsep perubahan HMI berawal dari ruang-ruangnya. Tempat belajar dari subuh ke subuh. Tempat mengabdi. Tempat berteduh, selain rumah yang kadang tak seide.
Sekretariat adalah saksi bisu perjalanan sejarah HMI. Tempat banyak orang-orang yang sekarang berjas dan berdasi, pernah tidur di selembar karpet atau pun koran, ditemani nyamuk dan kecoa.
Sekretariat perlahan-lahan beranjak berdandan lebih apik, atau pun berganti-ganti tempat, jika pengurus tak mampu merogoh kocek untuk mencari sekretariat tetap.
Ah....jadi teringat waktu aku berkunjung ke HMI cabang Padang. Tahun 2003, aku Latihan Kader III Badko HMI padang. Usai pelatihan singgah sebentar ke sekretariat HMI cabang Padang.
Saat itu bangunannya jauh dari kemegahan bangunan di foto itu. Sebuah rumah berwarna hijau, beratap genteng, dari jauh saja terlihat ringkih. Pertama kali melihatnya, aku bisa menebak bangunan ini sudah berdiri sejak jaman kemerdekaan.
Oya..saat itu tepat sedang berlangsung Latihan Kader I, aku melihat mereka menggunakan kursi besi...besi tempa. wah...tahan banting benar. Cerdas juga yang membeli kursi itu, sehingga lebih awet dibanding kursi stainless yang sering di pakai di kondangan. ya...memang kurang nyaman lah...tapi cukup menghemat kantong mahasiswa, daripada harus membeli setiap periodesasi baru.
Ternyata Sekretariat itu adalah bangunan sejarah. Konon adalah bekas markas PKI.Setelah PKI diberangus, asetnya di gunakan oleh HMI. Banyak sekretariat HMI cabang lainnya adalah bekas bangunan-bangunan seperti itu.
HMI cabang Surakarta, tak jauh berbeda tampilan bangunannya dengan Sekretariat HMI cabang Padang. Renta, tapi di dalamnya sejuk dan ramah. Ada peraturan saat aku berkunjung itu, ketua umum harus tinggal di sekretariat. Kebetulan ketua umumnya saat itu perempuan. Saat aku berkunjung kesana juga di tahun 2003, rasanya nyaman sekali. Banyak pohon yang rindang. Halamannya juga tempat parkir tukang becak. sayang ku tak sempat menginap barang semalam di rumah tua itu.
Sekretariat HMI cabang Bandung, juga punya sejarah sendiri. Bangunan Belanda juga, dan besar euy...Memiliki 2 ruangan pelatihan. Sewaktu menapaki gedung itu, aku membayangkan Akbar Tanjung dulu juga bergelut peluh di gedung ini.
Kembali ke Sumatera Barat, di Bukittinggi, sekertariatnya, rumah panggung peninggalan Belanda. Tak jauh dari STAI. Lantai rumahnya dari bambu dan sudah bolong-bolong pula. kalau tidak hati-hati, bisa terperosok ke kolong rumah. Tak ada kamar mandi. Anak HMI selalu ke kampus untuk menumpang mandi. Untungnya aku nginap di rumah teman, waktu berkunjung ke Bukittinggi. Jika tidak, pusing juga kalau kebelet tengah malam.
Sekretariat HMI yang juga bersejarah adalah HMI cabang Pematang Siantar di Sumatera Utara. Para alumni HMI yang duduk di MUI, menyediakan ruangan khusus di gedung MUI untuk jadi sekretariat HMI. Letaknya strategis di jantung kota. Masa reformasi tahun 1998, sekretariat ini posko pelarian mahasiswa dari medan yang di kejar-kejar militer. Sekretariat ini salah satu sekretariat yang selalu ramai penghuninya selama 24 jam setelah HMI cabang Medan pada masa itu. Sayangnya, pertarungan politik di HMI juga arogansi alumni, entah bagaimana, mendepak kader HMI dari gedung apik itu. Mereka lalu hengkang ke sebuah panti asuhan di perbatasan kota Siantar. Hidup bersama anak-anak panti. Sambil mengajar anak-anak panti asuhan, mereka sekali-kali meminjam ruang untuk pelatihan. Aku ingat sekali, tak ada WC di Panti asuhan itu. Jika ingin BAB cuma ada sungai kecil di belakangnya. Kebayangkan susahnya kalau menginap disana?. Apalagi Perempuan.
Nah..akhirnya kembali ke HMI cabang Medan. Konon tempat gedung sekretariat ini sekarang berdiri adalah bekas perkuburan Cina. Saat itu, terjadi konflik persoalan tanah, dan HMI salah satunya terlibat di dalamnya. Setelah konflik usai, sebagai ucapan terimakasih, HMI di berikan sepetak tanah, untuk sekretariatnya. Sedikit demi sedikit di bangun. Karena bekas kuburan, masih ada lho mahluk halus yang sekali-kali mengganggu. Namanya melanie....
Dibalik sekretariat tersebut adalah pemukiman yang terkesan kumuh. Masa ku jadi pengurus dulu, mereka selalu di libatkan dalam kegiatan HMI. Jika ada bagi-bagi sembako, Kurban, acara sosial, membuka perpustakaan anak, dll, mereka lah yang kebagian lebih dulu. Masa itu sangat harmonis antara HMI dan penduduk sekitarnya. Kadang malah sekretariat itu di sapu oleh Emak,yang menumpang jualan di pinggir sekretariat kami. Parkirannya, sampai sekarang di pakai pengguna sepeda motor, yang mengurus STNK di Poltabes, sebelah Sekretariat kami.
Apakah keharmonisan itu akan berakhir?
Sebentar lagi, pelan-pelan HMI cabang Medan akan menjulang 3 lantai. Dengan lengkung arcade yang anggun,seperti tampaknya mesjid kebanyakan. Ada juga teras berkanopi, tempat tamu bermobil bisa turun tanpa kehujanan, khas ala bangunan kolonial jaman belanda. Warung Emak, di sisa lahan sekretariat itu akan di gusur. Diganti parkiran mobil para KAHMI yang juga menapakkan sekretariatnya di sekretariat HMI.
Sekarang, HMI cabang Padang sudah berdiri bangunan baru. Tak terlihat sedikitpun bangunan hijau yang tua renta itu. Yang ada bangunan putih dengan pilar besar, seolah meniru gaya romawi. Menjulang 2 lantai, mencolok diantara bangunan sekitarnya yang masih berdinding papan dan atap seng yang sudah berwarna coklat.
Pertanyaan dalam benakku..
1. Akankah adik-adik HMI selanjutnya mengingat, rumah-rumah ringkih itu?
2. Akankah bangunan megah itu membuat mereka lupa pada rumah papan beralas tanah, dan lantai rumah yang berlubang-lubang?
entah kenapa aku pesimis...
tapi ku tetap berdoa...dan berdoa...
semoga darah hijau hitam itu tetap bergolak pada penindasan rakyat. Lawan!
Saturday, April 05, 2008
Anarkisme Aksi Fitna; Matinya Intelektualitas HMI

Sebuah aksi yang benar-benar gak perlu.
Aksi yang tak dipikirkan matang-matang.
dan dilakukan oleh mahasiswa pula.
Hiks..adik2 awak pula (malu)
Duh....ngapain di peduliin si wilder gila itu..
jadinya malah makin gila deh
klo emang Islam itu damai, kok aksinya ngerusak...
pusing deh
mahasiswa harusnya make otak bukan otot.
film itu, emang potret Islam kan?
ya..Islam entah apalah namanya...
namanya juga potret...
bukan berarti menggambarkan kebenaran
jadikan film itu refleksi aja..
bukan malah membenarkan dengan anarkisme di aksi mu
Duh bingung aku jadinya,
di bela...yah emang salah
gak di bela, keluarga awak
lain kali hati-hatilah bertindak.
"terkadang ketidak pedulian adalah cara untuk melawan".
Lebih baik kalian menjewer Para pemangku kekuasaan
yang sekarang lebih jadi selebritis dari pada pemimpin
Rakyat lapar Dik...!
Ibu-ibu mulai membunuh anak sendiri karena putus asanya.
please....
jangan terjebak dalam Rasis.
Friday, March 07, 2008
Ketika Perempuan VS Lelaki

ketika perempuan semakin bangkit berdaya
dan para lelaki masih juga tidur dengan ego
ketika perempuan bersatu dan berjuang
dan para lelaki enggan berpisah dari warisan patriarkhinya
ketika perempuan terus bergerak
dan lelaki semakin merasa risih terganggu
ketika perempuan semakin tangguh mandiri
dan lelaki semakin cengeng dan manja
ketika...
batas yang kuat dan lemah
batas yang berkuasa dan dikuasai
Lebur
satu dalam
kasih sayang
Ah...
mari kita lupakan semua itu
Gantikan dengan cinta
untuk buah kasih sayang kita
setuju?
Thursday, March 06, 2008
Kapan pemimpin itu muncul?!
Lama-lama aku bergelut di dunia perkaderan, aku mulai capek.
putus asa kah atau apatis, ataukah pemikiran ku sekarang ini adalah sebuah kebenaran.
aku mulai berfikir...
seorang pemimpin itu, tidak di lahirkan di perkaderan.
perkaderan cuma wadah saja.
ada atau tidak perkaderan
dia akan muncul sendiri.
pemimpin ibarat berlian
dan
berlian di dalam lumpur, ia tetaplah berlian.
Sosok-sosok tangguh yang ku kenal dulu, lebih banyak orang yang tertendang dari ibu kandung perkaderannya.
dia berontak ketika dia di tekan
Nyalang menatap dan berteriak lantang
Akan kubuktikan!
sebagai instruktur yang bermain dengan doktrinisasi,
selalu terbius dengan utopia melakukan perubahan budaya.
berusaha mengubah karakter manusia yang bermental sampah, menjadi berlian.
mungkinkah?
kenyataanya sampah..tetaplah sampah
kalaupun sampah bisa di daur ulang
ya...tentu saja lebih banyak menghasilkan sampahnya dari pada yang masih bisa bermanfaat.
daur ulang juga tak menghasilkan benda yang bagus kualitasnya bukan?
pengolahan sampah juga mahal.
hahaha...
kader = sampah?
jangan tersinggung...
lebih baik menjadi sampah dari pada parasit.
di HMI ini cukup banyak yang telah jadi parasit, vampir dan sejenisnya yang lama kelamaan akan menyedot habis apa yang selama ini di jaga dan di banggakan.
Ok.. kembali ke pemimpin
aku menanti..
menati
seorang kader yang ambisius
yang semakin di tendang semakin menatang
semakin di tekan semakin berontak maju!
lama aku menanti itu..
kadang ku lihat sinar mata itu kejap sekejap
tapi dia cepat berlalu...
mungkinkah pemimpin itu sudah enggan lahir dari perut perkaderan ini?
agar para pemabuk di perkaderan itu...
bangun dari tidurnya.
ehm..apa ku sekarang sudah bangun?
putus asa kah atau apatis, ataukah pemikiran ku sekarang ini adalah sebuah kebenaran.
aku mulai berfikir...
seorang pemimpin itu, tidak di lahirkan di perkaderan.
perkaderan cuma wadah saja.
ada atau tidak perkaderan
dia akan muncul sendiri.
pemimpin ibarat berlian
dan
berlian di dalam lumpur, ia tetaplah berlian.
Sosok-sosok tangguh yang ku kenal dulu, lebih banyak orang yang tertendang dari ibu kandung perkaderannya.
dia berontak ketika dia di tekan
Nyalang menatap dan berteriak lantang
Akan kubuktikan!
sebagai instruktur yang bermain dengan doktrinisasi,
selalu terbius dengan utopia melakukan perubahan budaya.
berusaha mengubah karakter manusia yang bermental sampah, menjadi berlian.
mungkinkah?
kenyataanya sampah..tetaplah sampah
kalaupun sampah bisa di daur ulang
ya...tentu saja lebih banyak menghasilkan sampahnya dari pada yang masih bisa bermanfaat.
daur ulang juga tak menghasilkan benda yang bagus kualitasnya bukan?
pengolahan sampah juga mahal.
hahaha...
kader = sampah?
jangan tersinggung...
lebih baik menjadi sampah dari pada parasit.
di HMI ini cukup banyak yang telah jadi parasit, vampir dan sejenisnya yang lama kelamaan akan menyedot habis apa yang selama ini di jaga dan di banggakan.
Ok.. kembali ke pemimpin
aku menanti..
menati
seorang kader yang ambisius
yang semakin di tendang semakin menatang
semakin di tekan semakin berontak maju!
lama aku menanti itu..
kadang ku lihat sinar mata itu kejap sekejap
tapi dia cepat berlalu...
mungkinkah pemimpin itu sudah enggan lahir dari perut perkaderan ini?
agar para pemabuk di perkaderan itu...
bangun dari tidurnya.
ehm..apa ku sekarang sudah bangun?
Subscribe to:
Posts (Atom)

